SYEIKH ABDURRAUF SINGKEL

SYEIKH ABDURRAUF SINGKEL

Nama lengkapnya adalah Syekh Abdurrauf Ali Al Fansury Al Singkily Al Jawi. Beliau adalah penyair, budayawan, ulama besar, pengarang tafsir, ahli hukum, cendikiawan muslim dan seorang Sufi yang sangat terkenal di Nusantara yang lahir pada tahun 1615 atau 1620 di Singkel, sebuah kabupaten di Aceh Selatan. Dia berasal dari kalangan keluarga muslim yang taat beribadah. Ayahnya berasal dari Arab bernama Syeikh Ali dan ibunya seorang wanita berasal dari desa Fansur Barus—sebuah pelabuhan (bandar) yang sangat terkenal waktu itu. Dimasa mudanya mula-mula Abdurrauf belajar pada Dayah Simpang Kanan di pedalaman Singkel yang dipimpin Syeikh Ali Al-Fansuri ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Barus di Dayah Teungku Chik yang dipimpin oleh Syeikh Hamzah Fansury. Ia sempat pula belajar di Samudera Pase di Dayah Tinggi yang dipimpin oleh Syeikh Samsuddin as-Sumatrani. Setelah Syeikh Samsuddin pindah ke Banda Aceh lalu diangkat oleh Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil, Abdurrauf pun pergi mengembara. Beliau tidak suka menetap di kota kelahirannya. Beliau lebih suka memilih mengembara meninggalkan kota kelahirannya untuk menuntut ilmu di berbagai pelosok nusantara dan Timur Tengah. Abdurrauf selalu merasa haus terhadap ilmu pengetahuan. Beliau pernah belajar hampir dua puluh tahun di Mekkah, Madinah, Yaman dan Turki. Sehingga tidak mengherankan kalau Beliau menguasai banyak bahasa, terutama bahasa Melayu, Aceh. Arab dan Persia. Disebutkan selama belajar ilmu agama di Timur Tengah, Syeikh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan 15 orang sufi termashyur. Tentang pertemuannya dengan para sufu itu, ia berkata “adapun segala mashyur wilayatnya yang bertemu dengan dengan fakir ini dalam antara masa itu…”. Pada tahun 1661 M Syeikh Abdurraur kembali ke Aceh dengan memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syeikh Jamiah Baitur Rahim, untuk menggantikan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Mengenai pendapatnya tentang faham Syeikh Hamzah Fansuri (Tarekat Wujudiah) nampaknya berbeda dengan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Beliau tidak begitu keras, Walaupun Syeikh Abdurrauf termasuk penganut faham tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasawuf. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir. Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, maka perkataannya itu akan berbalik kepada dirinya sendiri. Karya tulisnya yang diketahui lebih kurang dua puluh buah dalam berbagai bidang ilmu—sastra, hukum, filsafat, dan tafsir, antara lain;

1. ‘Umdat al-Muhtajin ila suluki Maslak al-Mufridin;

Dengan terjemahannya sendiri; Perpegangan Segala Mereka itu yang Berkehendak Menjalani Jalan Segala Orang yang Menggunakan Dirinya. Dalam karya ini diterangkannya tentang tasawuf yang dikembangkannya itu. Dzikir dengan mengucap La Illah pada masa-masa tertentu merupakan pokok pangkal tarikat ini. Kitab tersebut terdiri atas tujuh faedah dan bab. Sesudah faedah yang ketujuh diberinya khatimah yang berisi silsilah. Di samping memberi penjelasan tentang ajaran Abdur-Rauf, silsilah ini juga memberikan gambaran di mana dengan cara apa ulama-ulama dan pengarang-pengarang besar Melayu lainnya mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam kitab ini pula ia menyebut telah berada selama sembilan belas tahun di negeri Arab.

2.Mir’at al-Tullab fi Tashil Ma’rifat al-Ahkam al-Syar’iyah li’l-Malik al-Wahab.

Dalam kitab ini disebutnya ia mengarang atas titah Sultanah Tajul-Alam Safiatuddin Syah. Isinya ialah ilmu fikah menurut mazhab Syafi’i. Ilmu mu’amalat yang tidak dibicarakan dalam Sirat al-Mustaqim karangan Nuruddin ar-Raniri, dimasukkan disini.

3. Kifayat al-Muhtajin ila Suluk Maslak Kamal al-Talibin.

Dalam karya ini disebutnya ia dititahkan oleh Sultanah Tajul-Alam untuk mengarang. Isi kitab ini ialah tentang ilmu tasawuf yang dikembangkan oleh Abdur-Rauf.

4. Mau’izat al-Badi’ atau al-Mawa’ith al-Badi’ah.

Karya ini terdiri atas lima puluh pengajaran dan ditulis berdasarkan Qur’an, hadith, ucapan-ucapan sahabat Nabi Muhammad saw serta ulama-ulama besar.

5. Tafsif al-Jalalain.

Abdur-Rauf juga telah menterjemah sebagian teks dari Tafsir al-Jalalain, surah 1 sampai dengan surah 10.

6. Tarjuman al-Mustafiq.

Merupakan saduran dalam bahasa Melayu dari karya bahasa Arab ini. Dalam sebuah naskah Jakarta disebut ada tambahan dari murid Abdur-Rauf, Abu Daud al-Jawi ibn Ismail ibn Agha Ali Mustafa ibn Agha al-Rumi (Van Ronkel, Catalogus der Maleische Handschriften 1909 dalam ibid).

7. Syair Ma’rifat.

Syair ini terdapat dalam naskah Oph 78, perpustakaan Leiden, yang disalin pada 28 Januari 1859 di Bukit Tinggi.

SYAIR MA’RIFAT dimulai dengan;

Pahamkan olehmu di dalam hati
Kepada guru mintalah pasti
Tulus dan yakin kedua mati
Inilah bekal tatkala mati
Apabila mufakat empat ma’na
Agama Islam baharulah sempurna
Apabila mufakat empat di sana
Mengenal dzat Tuhan yang Ghana ……….
Fakir khabarkan suatu pendapat
Tatkala mencari ilmu ma’rifat
Sepohon kayu cawangnya empat
Buahnya diambil tiada dapat
Kayunya tinggi bukan kepalang
Buahnya banyak tiada berbilang
Warnanya indah amat cemerlang
Hendak diambil dibawa pulang
Mengambil buahnya hendak mendapat
Tuntut olehmu dengan isyarat
Fi’il yang baik dengan martabat
Mintak diguru janganlah bai’at
Tuntut olehmu dengan pengguruan
Tiadalah jadi dengan tiruan
Serta tarikat mengenal Tuhan
Hakikat ma’rifat sempurna jalan
Adalah ibarat fakir yang hina


Sepohon kayu banyak ma’nanya
Jikalau pohon tiada sempurna
Cawang dn dahan tiada berguna
Jikalau sempurna pohon itu
Cawang dan dahan terhimpun di situ
Buah dan bunga di sanalah tentu
Baiklah fakir hati di situ
Baik-baik tuan kita menerima
Kepada pohonnya ialah sempurna
Daun dan buah tiada sama
Masing-masing berlainan nama
Jikalau diibarat saja kelapa
Kulit dan isi tida serupa
Janganlah kita bersalah tapa
Tetapi beda tiadalah berapa
Sebiji kelapa ibarat sana
Lafadnya empat suatu ma’na
Di situlah banyak orang terkena
Sebab pendapat kurang sempurna
Kulitnya itu ibarat syari’at
Tempurungnya itu ibarat tarikat
Isinya itu ibarat hakikat
Minyaknya itu ibarat ma’rifat
Syariat itu ibarat tubuh
Tarikat itu jalan yang teguh
Hakikat itu bersungguh-sungguh
Ma’rifat itu seperti suluh
Baik-baik I’tikad kita sempurna
Supaya I’tikad kita sempurna
Jikalau bercerai lafadh ma’na
Akhirnya tiada berguna
Jika tuan menuntut ilmu
Ketahuilah dulu keadaanmu
Man ‘arafa nafsahu kenal dirimu
Faqad ‘arafa rabbahu kenal Tuhanmu
Kenal dirimu muhadath semata
Kenal Tuhanmu qadim dzatnya
Tiada bersamaan itu keduanya
Tiada semisal seupamanya
Adapun dikata ma’na yang empat
Iman, Islam, tawhid, ma’rifat
Keempatnya itu suatu tempat
Kurang dituntut tiadalah dapat

Kemudian diterangkan keempat-keempat perkara itu. Pada akhir tulisan ini disebut judul syair ini serta nama pengarangnya

Tamatlah sudah Syair Ma’rifat
Syaikh Abdur-Rauf mengarang di Aceh
Fakir menyalin kurang nan dapat
Jangan dicela jangan diupat.

KEMBALI KE HOME SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Satu Tanggapan

  1. sangat membantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: