M Iqbal Assegaf

Drh. M. Iqbal Assegaf

Nama  :
Drh. Muhammad Iqbal Assegaf
Tempat Tgl. Lahir :
Kampung Bajo, Bacan, Maluku Utara 12 Oktober 1957

Istri  :
Rahma Muhammad, SH

Anak :
1. Ahmad Mushaddiq (Dicky) Lahir pada tanggal 7 Desember 1988

2. Maryam Shahnaz Diena (Dina) Lahir 14 November 1991
3. Sharah Shahnaz Ilma (Sarah) Lahir 17 Agustus 1993
4. Hadijah Shahnaz Fitrah (Dijah) Lahir 30 Januari 1997
5. Arfah Shahnaz Qubra (Arfah), lahir 6 april 1998

Pendidikan :

1. SD Islamiyah I Ternate dan Madrasah Diniyah Awwaliyah  Al-Khairatri  1966 – 1972
2. SMP Negeri Ternate 1972 – 1974
3. SMA Negeri I Ternate 1974 -1977
4. Institut Pertanian Bogor  1977 – 1986

Kursus / Penataran :

1. Berbagai kursus kepemimpinan mahasiswa 1979-1982
2. Penataran Penyuluhan Kesehatan bagi Tokoh Pemuda DPP KNPI-Depkes 1986
3. Penataran Kader KB bagi Tokoh Pemuda (BKKBN) 1986
4. Tarpadnas Pemuda V diselengarakan oleh Menpora-Lemhanas 1990
5. Penataran Jurkam Golkar 1992

Pengalaman organisasi:
1. Ketua Osis SMP Negeri Ternate 1972
2. Ketua OSIS SMA Negeri I Ternate 1973
3. Badan Perwakilan Mahasiswa & Senat IPB 1981 – 1983
4. Ketua Umum Pengurus Cabang PMII Bogor 1981 – 1983
5. Ketua Umum PB PMII 1988 – 1991
6. Wakil Ketua Majelis Pemuda KNPI 1988 – 1990
7. Anggota Delegasi Pemuda Indonesia pada American Federalism and Youth Leadership di USA 1989
8. Peserta Expo Meeting Asian Youht Council di Seoul Korea Selatan 1990
9. Ketua Umum GP Ansor 1995 – 2000
10. Anggota Pokja Hankam DPP Golkar 1989 – 1993
11. Anggota Tim Asistensi DPP Golkar 1994 – 1997

Pengalaman Kerja :

1. Guru Matematika SMA 3 dan SMA Yayasan Pendidikan 17 Bogor 1982 – 1984
2. Asisten Dosen IPB 1982 – 1986
3. Staf Marketing dan Technical Service di perusahaan  PT. Gold Coin, Jakarta 1986 –1987
4. Marketing dan Technical Service di PT. YunawatyJakarta 1988 – 1990
5. Executive Manager di Pr. Trimuda Jaya Perdana Jakarta 1990 – 1993
6. Direktur Utama PT. Shahnaz Swa Mandiri 1993 – 1999
7. Anggota Komisi I DPR-RI Periode 1998 – 2003

DARI LABUHA KE AKTIFIS PEMUDA

Saya sempat mempunyai persepsi yang  miring terhadap Iqbal karena adanya persepsi negatif yang berkembang tentang dirinya. Gara-gara persepsi negatif itu, saya sempat tidak merestui pencalonannya sebagai ketua umum Ansor. Tapi persepsi negatif itu tidak berjalan lama . Sebab, begitu jadi orang nomor satu di Ansor, Iqbal mampu membuktikan bahwa anggapan minor terhadap dirinya itu tidak benar. Dan itulah kelebihan Iqbal. Jadi saya minta anak-anak Ansor untruk meneladaninya.

Kematian, siapakah yang dapat menebak kapan datangnya ? Tidak seorangpun, tidak siapapun. Ia, seperti kata  Jean Paul Sartre, pemikir Prancis, itu adalah sebuah piringan hitam yang pecah sekaligus sebuah kehidupan yang lengkap . Demikian , ketika suatu sore, disenja Jakarta yang basah, kematian itu tiba- tiba datang membawa kabar berpulangnya sahabat Muhammad Iqbal Assegaf. Kami terhenyak. Kabar itu sulit sekali dipercaya karena tidak  seorang  dari kami, sahabat- sahabatnya, pernah menduga dihadapkan pada kenyataan yang menyesakkan dada itu.

Sore itu, Sabtu, 13 Februari 1999, ketika sahabat-sahabat Ansor sedang melaksanakan Program Pelatihan Pekerja Terampil ( P3T) diGraha Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, kabar duka itu datang mengusung awan hitam diatas kepala kami. Seseorang datang dari rumah sakit Islam Jakarta memberi tahu bahwa ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Drh. Muhammad Iqbal assegaf, anggota FKP DPR RI, mengalami kecelakaan dipintu tol Plumpang, Jakarta Utara dan meninggal dunia beberapa saat kemudian.

Kabar yang mengejutkan itu serta merta membuat pelatihan langsung ditutup. Seluruh peserta pelatihan bersama-sama langsung menjenguk kerumah sakit. Tapi itulah rupanya kesempatan terakhir sahabat-sahabat Ansor untuk bertemu dengan Iqbal. Kecelakaan dipintu keluar tol Cawang – Tanjung Priuk itu bukan saja menyebabkan mobil BMW biru tua B 63 RI yang dikemudikan Iqbal ringsek, tapi juga mencedrai nyonya Rahma Muhammad, SH Isterinya bahkan menyebabkan menyebabakan Iqbal sendiri harus menghadap kepada Al khaliq, Allah subhanahu Wata’ala , sang maha pencipta.

Hari itu, masih dalam suasana lebaran Iedul Fitri 1419 H, Iqbal bersama Istrinya berniat untuk menghadiri halal bil halal warga Maluku Utara di galanggang remaja  Jakarta Utara. Dengan mengemudikan sendiri mobilnya, kkeduanya meluncur dijalan  Ir. Wiyoto Wiyono Wiyono. Namun  sesaat setelah keluar pintu Plumpang, mobilnya slip karena menghindari genangan air dan menabrak tembok pembatas jalan hingga menerobos masuk jalur jalan yang berlaawanan arah. Saat itulah sebuah mobil colt L 300 yang melaju kencang menabrak BMW yang dikemudikan Iqbal hingga bagian kanan BMW tersebut penyok dan Iqbal yang duduk dibelakang stir, terjepit.

Menurut iryanto, saksi mata yang mengemudikan mobil sekitar 50 meter dibelakang mobil yang dikemudikan Iqbal, begitu melihat kecelakaan tersebut kemudian ia memberhentikan mobilnya dan segera memberikan pertolongan . Iryanto menuturkan , setelah kecelakaan hebat  itu, Iqbal tampak masih bernapas dan sempat mengucapkan kalimat Syahadad.  “Tetapi Kondisinya sudah sangat payah dan bebebrapa saat kemudian  Iqbal menghebuskan nafasnya yang  terakhir,” katanya.

Sedangkan Rahma Muhammad Iqbal SH, Istrinya, menurut Iryanto, waktu itu masih sadarkan diri dan sempat berteriak meminta pertolongan . Beberapa orang kemudian membawa Iqbal kerumah sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta. Selanjutnya Iqbal dibaawa kerumah sakit Cipto Mangunkusumo untuk di otopsi. Dari rumah sakit Cipto Jenazah Iqbal lalu dibawa kerumah duka untuk dimandikan dan dishalatkan. Jenazah iqbal lalu dimakamkan dipemakaman keluarga Al Hadad, kalibata Jakarta Selatan dalam sebuah upacara sederhana yang dihadiri keluarga, kerabat , teman teman dan sahabat Pemuda Ansor dan Banser DKI Jakarta. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji’uun.

Kematian itu, sungguh, meskipun setiap kita pernah menyaksikan musibah serupa, tapi saat ia datang menjemput sahabat  Iqbal dalam usianya yang masih 42 tahun, sangat tak mudah untuk diterima begitu saja sebagai “suratan takdir” yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Walaupun kita tahu Allah punya rencana sendiri terhadap semua hambaNya, namun taks erdikit sahabat-sahabat Ansor yang bertanya mengapa Allah begitu tega memanggil Iqbal pulang ke haribaanNya justru disaat ia sedang berada dipuncak penitian karirnya.Tak sedikit orang yang bahkan mencoba untuk meraba-raba rahasia Allah, sang maha pencipta itu. Mengapa Allah terlalu cepat memanggilnya justru ketika ia sedang berupaya membangun cita-cita luhurnya untuk keluarga, organisasi, bangsa dan negaranya ?

Sampai hari ini tak seorangpun yang tahu apa jawabannya. Tak seorangpun yang bisa menebak rahasia semesta Allah sang Maha. Sebab hanya dialah yang tahu rahasia apa yang ada dibalik kehendakNya itu. Sedang kiata hanya dapat mengambil hikmahnya. Memetik pelajaran dari garis takdir yang sudah ditentukanNya. Tak terkecuali garis takdir yang ditetapkanNya terhadap sahabat M. Iqbal Assegaf, betapapu kita semua menyesali kepergianNya .

LAHIR DARI DARAH PEJUANG

Lahir dikampung Bajo, sebuah desa terpencil dipulau Bacan kab Maluku Utara pada pada tanggal 12 oktober 1957, Iqbal adalah anak keempat dari duabelas orang bersaudara yang semuanya laki-laki. Kedua orang tuanya, Bapak Husein Ahmad Assegaf dan Ibu Rawang Abdullah Kamarullah, adalah orang desa yang hidup sangat sederhana namun sangat dihormatioleh pendududk desa . Ayahnya selain berpengetahuan agama yang cukup luas, adalah keturunan langsusng dari Habib Umar Assegaf, adalah seorang pejuang kemerdekaan keturunan arab yang berasal dari Palembang dan menikah dengan Raden Ayu Azimah, Putri sultan Badaruddin II. Kira kira pada awal abad ke20. Habib Umar Assegaf yang berjuang bersama Sultan Badaruddin II melawan kolonialis Belanda, tertangkap dan keduanya kemudian dibuang ke Tondano.

Dari perkawinan Habib Umar dengan Raden Ayu Azimah ini lahirlah Abdullah Assegaf yang kemudian menikah dengan seorang wanita keturunan Belanda bernama Meyers dan dikaruniai empat orang anak. Ketika Ny. Meyers meninggal dunia, Abdullah Assegaf menikah lagi dengan seorang wanita setempat yang masih memiliki hubungan darah dengan kyai Mojo, salah seorang Panglima perang Pangeran diponegoro yang tertangkap oleh Belanda dan dibuang ke Tondano. Keturunan kyai Mojo di Tondano inilah yang kemudian dikenal sebagai keturunan bangsawan Suratinoyo. Dan Abdullah Assegaf menikahi salah seorang perepuan dari bangsawan Suratinoyo. Lalu dari perkawinannya dengan putrid bangsawan Suratinoyo inilah lahir kakek Iqbal, yaitu Habib Ahmad Assegaf.

Ismed Al-Hadar, sepupu dasn teman dekat Iqbal menuturkan, kalau melihat dari silsilah itu, maka keluarga Iqbal adalah keluarga yang memiliki darah pejuang. Ismet menuturkan, seorang sepupu Iqbal yang lain, yakni Arifin Assegaf, pernah masuk penjara karena terlibat dalam pemeberontakan permesta. Lalu keluarga-keluarga dari sebelah ibu, yang merukan sepupu dua kali dari Iqbal, adalah juga penulis dan pembela-pembela Islam yang konsisten. Bahkan kakak kandung Iqbal sendiri, Ridwan assegaf, menurut Ismet, adalah seorang aktifis yang meninggal secara misterius dalam sebuah kecelakaan diSurabaya.

Menurut Ismet, secara pribadi dia memang tidak pernah bertemu dengan ayah Iqbal.”Tapi dari pembicaraan orang, saya tahu ayah Iqbaladalah seworang yang cukup pintar dan banyak membaca,” tambahnya. Oleh karena itu, kata Ismet, jika Iqbal memiliki kemampuan Intelektual yang cukup baik dan keberanian yang cukup besar sebagai aktifis, sesungguhnya itu disebabkan karena tradisi sebagai pejuang dan pemikir itu sejak lama tumbuh didalam keluarganya. “Buktinya, nama Muhammad Iqbal yang diberikan ayahnya itu menunjukkan bahwa ayahnya waktu itu sudah mengetahui dan mungkin menjadi pengagum penyair besar asal Pakistan tersebut. Lalu anaknya yang  lain, salah seorang adik Iqbal, juga diberi nama Ibnu Khaldun adalah pemikir besar Isalam,” kata Ismet.
Tahun 1988 Iqbal mewnikah dengan Rahma Muhammad, SH, gadis yang sudah dikenalnyasejak ia masih duduk dibangku SMP. “Tapi waktu itu kami kami hanya sekedar kenal saja. Saya lalu ke Jakarta dan baru pada tahun 1983 kami pernah bertemu sekali lagi,” ujar Rahma. Menurut Rahma, barulah pada tahun 1984, dalam sebuah acara di rumah Fadel Muhammad, mereka kembali bertemu dan benar-benar berhubungan secara serius.

Pertemuaan dirumah Fadel itulah yang kemudian membawa keduannya menikah di Jakarta pada 6 Maret 1988. Sampai akhirnya Iqbal menutup mata untuk selama-lamanya, perkawinan itu telah membuahkan lima orang putra-putri. Yang terbesar adalah Ahmad Mushaddiq (Dicky), seorang putra yang lahir pada tanggal 7 Desember 1988. Empat anaknya yang lain adalah wanita, yakni; Maryam Shahnaz Diena (Dina), lahir 14 November 1991, Sharah Shahnaz Ilma(Sarah), lahir 17 Agustus 1993, Hadijah Shahnaz Fitrah (Dijah), lahir 30 Januari 1997 dan Arfah Shahnaz Qubra (Arfah), lahir 6 april 1998

Ketika Iqbal diantar ayahnya ke Ternate, ia masih duduk dibangku kelas empat SD. Kepindahan Iqbal dari Bajo ke ternate, kemungkinan besar disebabkan oleh kekhawatiran ayahnya terhadap rendahnya kualitas pendidikan di Bajo saat itu. Kekhawatiran itu memang terbukti. Di sekolah barunya, SD Islamiyah I Ternate, Iqbal akhirnya tidak naik kekelas lima. “Tapi dia tidak naik bukan karena murid yang bodoh. Dia tidak naik kelas semata-mata  karena pelajarannya ketika masih di Bajo sangat ketinggalan,” ujar Ismet.
Di Ternate Iqbal tinggal dirumah Ali Agiel, suami adfik ayahnya. Ali Agiel atau yang suka dipanggilnya Aba Ye inilah yang menjadi ayah angkat Iqbal selama ia tinggal di Ternate hingga ia menamatkan SMAnya. Menurut penuturan Aba Ye,dia sendiri heran mengapa Iqbal memilih tinggal di rumahnya padahal banyak familinya di kota itu. “Tapi waktu orang tuanya mengantarkan Iqbal ketempat saya, kami sekeluarga ikhlasmenerimanya. Saya sendiri merawatnya dengan baik seperti merawat anaksaya sendiri,” ujar Aba Ye.

Di Ternate dipagi hari Iqbal masuk sekolah umum di SD Islamiyah dan siang harinya ia sekolah agama dimadrasah Diniyah Awwaliyah Al- Khairat.Ada cerita menarikdari masuknya Iqbal ke madrasah Al Khairat ini. Karena di SD Islamiyah itu masuk pagi, siang harinya ia suka main ke madrasah dan suka mengintip anak- anak yang belajar lewat jendela kelas. Iqbal sangat ingin belajar dimadrash itu tapi dia tidak punmya uang. Hampir setiap hari Iqbal main kemadrasah tersebut. Tapi dia dapat mengintip murid- murid yang sedang belajar dari balik jendela kelas.

Suatu hari seorang guru memberikan pelajaran “nahwu” dan mengajukan pertanyaan pada murid-murid yag sedang belajar dikelas itu. Tak ada seorang murid yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tapi Iqbal dari balik jendela kelas, tanpa malu-malu menjawab pertanyaan guru tersebut. Jawaban Iqbal rupanya membuat guru madrasah tersebut tertarik. Ia lalu mengajak Iqbal Masuk kedalam kelas. Sejak itu Iqbal bahkandibolehkan menjadi murid di madrasah tersebut. Bukan main senang hati Iqbal. Ia langsung masuk kemadrasah itu dan langsung duduk dikelas dua. Setelah catur wulan pertama, tanpa mengikuti ujian akhir, Iqbal malah lompat kelas lagi kekelas tiga. Dimadrasah Al khairat ini pulalah bakat berpidato Iqbal mulai terlihat.Setiap kali ada lomba berpidato antar siswa, Iqbal selalu mengikutinyadan selalu tampil jadi juara.

Aba Ye mengisahkan, pada waktu-waktu luang, selain sekolah iapun mengajari Iqbal berdagang. “Kami punya usaha membuat roti, dan Iqbal aku suruh untuk menjual roti-roti itu,” katanya. Setiap hari, dengan membawa keranjang rotan berisi roti yang ditaruh belakang sepedanya, Iqbal mengayuh sepedanya keliling kota Ternate. “Saya senang karena dia tidak malu melakukan pekerjaan itu,”ujar Aba Ye. Dengan cara itu, ujar Aba Ye, Ia berharap agar Iqbal dapat memperoleh pelajaran berharga untuk masa depannya. “Supaya dia tahu mencari uang tidak mudah. Sebab tanpa bekerja seseorang tidak akan dapat berbuat banyak untuk hidupnya,”kata Aba Ye. Iqbal sendiri melakukan pekerjaan menjadi penjual roti itu sampai ia duduk dikelas tiga SMA.

Selain mejual roti, dirumah pamannya itu Iqbal juga diberi tugas mengisi bak air. Di Ternate, sumur keluarga Aba Ye sangat dalam karena rumah mereka ada diatas bukit. Mungkin karena tugas itulah tubuh Iqbal ketika kecil terlihat kekar dan berotot. Tapi ujar Aba Ye, karena anak-anaknya juga banyak tugas mengisi bak air tak sepenuh oleh Iqbal. “Saya membuat jadwal dan membagi tugas mengisi bak air itu dalam kelompok. Iqbal satu ke;lompok dengan anak saya Najib,” ujar Aba Ye.Tapi waktu itu kata Aba Ye, Iqbal justru meminta agar ia sendiri saja yang mengisi bak ait tanpa harus menyertakan Najib. “Saya haru terharu mendengar permintaanya itu. Padahal saya akan menunjukkan padanya bahwa saya tidak pilih kasih. Saya katakan padanya bahwa semua anak saya harus bekerja,” kenang Aba Ye.

Aba Ye menyebutkan, sejak kecil Iqbal adalah anak yang penurut, sopan dan hormat pada yang lebih tua. “Dia tidakpernah melawan pada saya.Apayang saya katakan tidak pernah dibantahnya,” tutur Aba Ye. Tapi di sisi lain, kata Aba Ye, dia selalu ingin tahu kesulitan orang lain. Jika ada persoalan, dia selalu ingin ikut membantu. Saya sering ingatkan dia jangan suka mencampuri masalah orang. “Tapi itu rupanya sudah menjadi pembawaannya,” ujar Aba Ye lagi. Menurut Aba Ye, Iqbal adalah seorang yang tidak bisa melupakan begitu saja jasa orang kepadanya. Bahkan, kata Aba Ye, dia selalu ingin membantu siapa saja yang kesusahan. “Dia tidak bisa melihat penderitaan orang lain. Bahkan setelah ia di Jakarta, saya sendiri sering sekali  menerima kiriman uang darinya,” tutur Aba Ye.

Iqbal tinggal di rumah ayah angkatnya ini sampai ia menamatkan SMA-nya. “Waktu itu saya tidak tahu apakah diad bisa melanjutkan sekolah atau tidak. Untungnya ketika tamat SMA dia memperoleh beasiswa dari P dan K karena dia terpilih sebagai lulusan terbaik diSMA I Ternate. Dia ikut program PMDK dan boleh masuk ke IPB tanpa tes,” ujar Aba Ye. Dan ketika  Iqbal berhasil kenyelesaikan kuliahnya di IPB dengan baik, bukan main bangganya hati Aba Ye. Menurutnya,keberhasilan itu diraih Iqbal karena sejak kecil dia sudah mwendapatkan pengalaman hidup yang cukup keras ditambah pengalaman mas kecilnya yang cukup pahit. “Waktu dia diwisuda, saya diundangnya untuk hadir, saya m,engahadiri acara wisuda itu. Saya bangga sekali, saya kira tidak ada orang tua yang tidak bangga menyaksikan anaknya berhasil, “kenang Aba Ye.

Aba Ye menuturkan, saat-saat terakhir sebelum kecelakaan yang membawa kematiannya itu, Iqbal masih sempat mengundangnya datang ke Jakarta. Dia bilang, “Sudah Aba Ye, nanti saya kirim uang untuk beli tiket.” Bahkan saya sempat bercanda paadanya, “Nanti kalau kita mati, ngana sudah tidak lihat Pa kita,” kata saya.

Mendengar itu, kata Aba Ye, Iqbal marah dan mengatakan, “Aba Ye jangan bilang begitu. Pokoknya Aba Ye harus datang.” Tuturnya. Rupanya, kata Aba Ye, kedatangannya memenuhi undangan Iqbalitu hanyalah untuk menghadiri saat-saat terakhir kepulangannya kekampung akhirat. “Saya tidak bisa berkata apa-apa waktu itu. Saya hanya berdo’a semoga lepulangannya itu mendapat tempat disisi Allah SWT,” kenang Aba Ye.

Rasa bangga yang sama diungkapkan oleh Said Al-Hadar, paman Iqbal lainnya yang tinggal di Jakarta. Menurut Ami Id, demikian Iqbal suka memanggilnya, keberhasilan yang diraih Iqbal adalah bherkat keuletan Iqbal sendiri. “Dia seorang yang memang ssangat Ulet.waktu kuliah dulu dia tidak pernah berfikirsoal biaya. Cita-citanya Cuma satu, ingin jadi orang yang berguna,” kata Ami Said.

Untuk memenuhi cita-citanya itulah, kata Ami Id, Iqbal bekerja sambil kuliah. Selain Itu, kata Ami lagi, kebanggaanya timbul karena Iqbal, sekalipun sudah menjadi tokoh pemuda, tidak pernah melupakan keluarganyadan tetap memiliki hormat yang luar biasa pada orang tua. Dan itu katanya, ditunjukkan Iqbal dengan sealu datang dan nkmeminta nasehat kepaadanya. “Dia bahkan tidak pernahmau mebantah apapun yang saya katakan,” ujar Ami Id.

Dan, seperti Aba Ye juga, dalam kenangan Ami Id, Iqbal adalah seorang yang tidak pernah lupa pada keluarganya. “Dia memiliki p[erhatian kepada keluarganya yang luar biasa. Dia tidak bisa melihat orang lain menderitadan selalu ingin menolongnya. Terlebih setelah dia bekerja,” kata Ami Id. Waktu kuliah dulu, kata Ami Id, Iqbal selalu datang padanya bukan Cuma untuk meminta nasehat, tetapi juga memohon dukungan agar dia bisa maju. “Dan sebagai orang yang telah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya di Jakarta, saya selalu memberinya support,” ujar Ami Id.

Disebutkannya, sekalipun Iqbal sangat hormat kepadanya, tapi Iqbalpun sangat terbuka kepadanya,. Bukan saja ketika kuliah, tetapi juga setelah berumah tangga. Ami Id mencontohkan kepada keterbukaan Iqbal itu dengan menjadikan dirinya sebagai tempat Iqbal mengadukan semua kesulitan yang dialaminya. “Waktu kuliah dulu dia suka datang pada saya dan minta uang untuk menutupi kebutuhannya. Dan saya selalu memberinya sesuai dengan kemampuanh saya,” kenang Ami Id.

Namun, kata Ami Id lagi; “Satu hal yang saya larang dilakukannya adalah meminjam, sebab meminjam ada konsekuensinya, yakni harus membayar. Kita akan ditagih orang. Tapi minta, kalau dikasih ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa,” katanya. Karena itu, tambah Ami Id, selalu saya katakan kepadanya, gunakanlah uang yang ada sehemat mungkin. “Tetapi setahu saya Iqbal hanya meminta uang pada saya kalau dia memang sudah sangat terdesak dan sangat membutuhkannya. Biasanya dia hanya meminta uang pada saya untuk keperluan kuliahnya dan memenuhi biaya hidupnya di Bogor,” kata Ami Id lagi.

HIDUP ITU TIDAK SENDIRI

Diluar pelajaran tentang kerasnya perjuangan hidup yang dialami Iqbal dimasa-masa kanak-kanaknya itu, orang yang justru berpengaruh pada pem,bentukan watak dan kepribadian Iqbal di kemudian hari adalah ayahnya sendiri. Ayahnyalah, Habib Husein Ahmad Assegaf, yang menanamkan pemahaman tentang nilai-nilai filosofis kehidupan kepadanya.. Hal ini bisa dimaklumi karena, menurut Rahma, sekalipun Iqbal sejak SD kecil tinggal di Ternate, namun setiap kali liburan sekolah tiba, dia tetap menyempatkan diri pulang keBajo bertemu ayahnya. Selama pertemuan di masa liburan itulah ayahnya selalu bercerita sejarah kebesaran Islamdan keduanya kemudian menghabiskan waktu dengan berdiskusi tentang persoalan tersebut. Terkadang ayahnya menceritakan sejarah itusambil mengajaknya memancing ikan dilaut.Bahkan ketika kemudian Iqbal sudah sudah duduk dibangku SMA dan ia menyadari potensi yang dimiliki anaknya itu, dia pun mulai menceritakan tentang kandungan-kandungan filsafat karya beberapa filosof terkemuka, diantaranya pemikir Muhammad Iqbal. Bahkan, selain hal-hal bersifaty rasional tadi, ayahnya juga mengajarkan masalah-masalah yang menyangkut tarekat. Iqbal sendiri, dikemudian hari, mengaku msangat bangga pada ayahnya tersebut.

Bagaimana besarnya pengaruh pendidikan watak yang ditanamkan ayahnya itu mepengaruhi kehidupan Iqbal dikemudian hari, bisa dilihat dalam berbagai aktivitas Iqbal bahkan sampai akhir-akhir masa hayatnya. Sebagai anak lelaki, sejak kecil Iqbal sudah diajari mengenai bahwa dia tidak hidup sendiri didunia ini. Sejak kecil dia sudah diajari dirinya adalah bagian kecil dari komunitas besar lingkungan masyarakatnya. Dan ajaran seperti itulah, ujar Iqbal suatu kali, yang selalu mendorongnya untuk tetap berdiri pada kerangka berfikir dan keinginan bertindak secara komunal. Bahkan ajaran seperti itu pula yang selalu mendorongnya untuk tampil sebagai “pioneer” bagi penyelesaian problem yang dihadapi teman-temannya.

Karenanya, bukan hal aneh ketika Iqbal menjadi ketua Umum PMII atau saat ia menjadi ketua Umum GP Ansor sampai menjelang akhir hayatnya, didatangi teman-teman dan adik-adik organisasssinya yang minta uang untuk biaya kuliah atau untuk mebayar uang kost. Bahkan tidak aneh pula kalau sebagai ketua umum Organisasi pemuda dilingkungan NU, Iqbal rela meminjami sekedar kopiah dan ikut mengantarkan adik kelasnya diorganisasi yang ingin menikah sekalipun ia harus rela keluar masuk pelosok-pelosok desa. Iqbal tak pernah sayang mengeluarkan uang maupun tenaganya untuk menolong sahabat-sahabat yang mebutuhkan pertolongan itu. Tidak sedikit Adik kelas atau rekan organisasi yang pernah “dibantunya”  itu kini malah tampil sebagai politisi atau usahwan muda yang sukses. Dan keikhlasan seperti itu, tidak bisa tidak, adalah cerminan sebuah sikap solider yang sangat dimotivasi oleh pendidikan yang ditanamkan ayahnya dan pengalaman hidup Iqbal sendiri pada masa kecilnya.

Solidaritas Iqbal terhadap lingkungannya itu bisa dilihat ketika tahun 1997 misalnya, saat Jakarta dilanda banjir besar dan rumah-rumah penduduk yang tinggal di bantaran kali Ciliwung terendam air, Iqbal, pada suatu malam mengajak isterinya membawa makanan. dan mendatangi penduduk yang terkena musibah itu di kawasan Kalibata. Rahma menuturkan, mulanya dia menolak dan meminta Iqbal untuk datang besok siang saja. Tapi Iqbal justru bersikeras untuk datang malam itu juga. “Saya akhirnya mengalah. Malam itu juga kami datang ke Kalibata dengan membawa makanan. Tapi karena gelap, sampai-sampai bemper mobil yang kami tumpangi penyok karena menabrak trotoar,” cerita Rahma. Tapi Iqbal, kata Rahma, justru tenang saja. Ketika Rahma akhirnya bertanya mengapa untuk memberi bantuan saja harus malam-malam, Iqbal menjawab bahwa itulah yang dilakukan Imam Ali r.a. Menurut Rahma, ketika itu Iqbal mengatakan bahwa Imam Ali La justru memilih malam hari untuk mem¬bantu orang agar ketika tangan kanannya memberi bantuan tangan kirinya tidak mengetahui.

Pada hari yang lain, Dicky, anak tertuanya menceritakan bagaimana seorang teman sekolahnya tidak boleh ikut ujian karena belum membayar uang sekolah. Iqbal yang mendengar cerita anaknya itu lalu menyuruh isterinya, Rahma, untuk membayarkan uang sekolah ternan anaknya tersebut.

Semua yang dilakukan Iqbal itu tampaknya sangat dipengaruhi oleh pengalaman Iqbal sendiri yang sejak kedl sudah merasakan bagaimana pahitnya hid up sebagai orang tak berpunya. Selain itu, sebagai anak daerah yang menuntut ilmu jauh dari kampung halamannya, Iqbal adalah juga “anak kost” yang kenyang dengan asam garam perjuangan hidup di kampung orang. Bayangkan saja, sejak kelas empat SD ia telah berpisah dari orangtuanya dan hidup di rumah ayah angkatnya. Bahkan ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Jawa pada tahun 1977 dan kemudian kuliah di IPB Bogor, ia hanya diantar oleh abangnya, Ridwan Assegaf (alm-pen), cuma sampai di pintu gerbang kampus. “Sekarang kamu sendirilah yang akan menentukan hidup dan masa depan k.amu. Kamu mau jadi orang atau tidak, kamu sendirilah yang harus mengatasinya,” ujar Iqbal suatu kali menirukan  kata-kata Ridwan, abangnya.

Kesadaran berpikir dan bertindak atas nama kepentingan  “orang banyak” itulah yang agaknya turu t membentuk kemampuan Iqbal sebagai organisatoris. Dan itulahlah yang membuat ternan-ternan di masa kanak-kanaknya di SMP Negeri Ternate mendaulatnya untuk menjadi Ketua OSIS hingga ia tamat pada tahun 1974. Pendaulatan itu terulang kembali ketika ia menanjak remaja dan meneruskan sekolahnya ke SMA Negeri Ternate. “Waktu itu, secara aklamasi, ternan-ternan di SMA Negeri Temate meminta saya menjadi Ketua OSIS,” kenang Iqbal yang lulus dari sekolah menengah tersebut pada tahun 1977.

Sebelum terlibat dalam semua aktivitas kemahasiswaan/kepemudaan, Iqbal sesungguhnya sudah menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang tentang keterkaitannya di organisasi. Masuk SMP Negeri Ternate tahun1972, ia sudah menjadi Ketua OSIS di SMP tersebut hingga akhimya lulus pada tahun 1974. Bahkan .SMP itu bakat kepemimpinan dan keberanian Iqbal sudah nampak menonjol. Menurut Ismunandar, teman semasa kecilnya, ketika menjadi ketua OSIS itu Iqbal bahkan sempat dipukul pak Lestaluhu, kepala sekolah SMP Negeri Ternate. Pasalnya karena Iqbal, tanpa sepengetahuan para guru, menyuruh seluruh siswa lelaki di sekolah itu memakai celana panjang pada setiap hari Sabtu. “Anehnya teman-teman mau saja,” kata Ismunandar. Keberanian serupa juga terlihat ketika, masih di SMP dulu, Iqbal berani ikut lomba pop singers dan bersaing dengan penyanyi-penyanyi yang sudah terlatih. “Sekalipun dia tak pemah jadi juara, tapi keberaniannya untuk tampil di atas panggung cukup luar biasa,” ujar Ismunandar.

Soal keberanian Iqbal bertindak dan mengambil keputusan itu dibenarkan juga oleh.Ismet Al-Hadar. “Begitu ,beraninya Iqbal sampai-sampai dia pernah dipecat sebagai Ketua OSIS SMA Negeri Temate. Soal itu, kata Ismet, diceritakan Iqbal padanya lewat surat. “Dan itulah satu-satunya surat yang pemah ditulis Iqbal untuk saya,” kat a Ismet lagi. Dalam surat itu, kata Ismet, Iqbal menceritakan perlakuan tidak adil Ibu Siti Hawa, Kepala Sekolah SMA Negeri Ternate yang memecatnya sebagai ketua OSIS di SMA tersebut. “Waktu itu saya sudah menetap di Jawa. Dan Iqbal, dalam suratnya mengeluhkan pemecatan itu,” kisah Ismet. Ismet menceritakan, menurut Iqbal pemecatan itu dilakukan karena dia dianggap tidak disiplin dan absen saat sekolah mengadakan acara ‘penting. Padahal, menurut Iqbal, dia tidak bisa mengikuti acara sekolah karena ayahnya, orang yang sangat dihormatinya, meninggal dunia dan dia harus pulang ke Bajo untuk menghadiri pemakamannya. “Pemecatan itu merupakan tindakan sepihak dari kepala sekolahnya,” tulis Iqbal dalam suratnya.

Namun Ibu Siti Hawa membantah alasan pemecatan yang dikemukakan Iqbal itu. Menurutnya, sebagai murid yang pintar dan unggul dalam beberapa mata pelajaran, Iqbal pada dasamya memang anak yang baik dan taat pada guru serta orangtua. “Sholatnya juga tidak pemah tinggal,” kata Ibu Siti Hawa. Namun, tambahnya, karena kepintarannya itu Iqbal suka over acting. “Dia selalu merasa paling pintar di antara teman-temannya. Dan karena sifatnya itulah saya memecatnya sebagai
Ketua OSIS,” ujar Ibu Siti Hawa. Ia menambahkan, tidak. ada maksud apapun dari pemecatan Iqbal waktu itu. “Sayabermaksud baik. Saya ingin memberikan pembinaan kepadanya agarsifat merasa paling pintar itu tidak terulang lagi di kemudian hari,” kata ibu Siti Hawa. Sebab, tambahnya, pada saatnya nanti Iqbal pastilah akan hidup dan b’ergaul dengan masyarakat lain. “Jadi pemecatan itu saya lakukan untuk memberi pelajaran kepadanya bahwa sifat merasa paling pintar itu tidak baik,” ujar Ibu Siti Hawa.

Pria berpenampilan trendy dan selalu tampil tenang ini sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi aktivis. Sejarah panjang keterlibatannya di berbagai organisasi kepemudaan, di kampus maupun di luar kampus, membuktikan hal itu. Komitmennya terhadap dunia kepemudaan di Indonesia dan intensitas pergulatannya dalam berorganisasi, pada akhirnya ikut memperkokoh anggapan itu. Meski terkadang suka meledak-ledak, kiprah Iqbal tetap menjadi fenomena menarik dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat terhadap organisasi kepemudaan di Indonesia. Setidaknya hal itu mulai terlihat ketika dia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) masa bakti 1988-1991.

Semasa memimpin PB. PMII itulah “ghirah” politik Iqbal mulai mengkristal. Pada periode ini, sebagai Ketua Umum PMII Iqbal sempat membuat merah telinga beberapa pejabat pemerintah Orde Baru. Padahal saat itu mayoritas organisasi kepemudaan tampil lebih sebagai “pak turut” dan semata-mata tunduk pada kemauan pemerintah ketimbang sebagai anak muda yang kritis. Namun Iqbal mendobrak kebekuan itu.
Ketika teIjadi musibah terowongan Mina pada musim haji tahun 1990 yang menewaskan sekitar 1600 jamaah haji asal Indonesia, Iqbal, dalah1 kapasitasnya sebagai Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dengan lantang mengeritik kinerja Departemen Agama dalam urusan penyelenggaraan haji tersebut dan meminta menteri agama Munawir Sadzali (alm) mundur dari jabatannya.

Pernyataan keras PMII itu sebenarnya dilontarkan Endin Soefihara, salah seorang Ketua PB. PMII. Namun Iqbal yang ketika itu berada di Amerika, menyetujuinya dan kemudian mengambil over permasalahannya. Menteri Agama Munawir Sadzali marah besar dan menganggap Iqbal tidak mengerti duduk persoalannya. Tapi tuntutan PMII itu justru disambut positif banyak ormas lain. Bahkan Ikadin, ketika itu, ikut menuntut agar menteri agama Munawir Sjadzali diadili di mahkamah Internasional karena keteledorannya.

Ghirah sebagai aktivis itu semakin menyala ketika Iqbal maju sebagai calon Ketua Umum GP Ansor dalam kongres Ormas pemuda itu di Palembang pada bulan September 1995. Dalam kongres itu, Iqbal yang berasal dari luar Ansor, justru terpilih menjadi Ketua Umum Ansor untuk masa bhakti 1995 – 2000. Terpilihnya Iqbal itu semakin memperkokoh sosoknya sebagai seorang aktivis yang memiliki visi dan konsepsi organisasi yang jelas. Pendaulatan itu sekaligus mempertegas eksistensinya bahwa PMII bukanlah anti klimaks dari (fitrah) kepemimpinannya sebagai aktivis tersebut.

Proses pendaulatan seperti itu dialaminya juga sewaktu ia menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1977. Sebagai mahasiswa IPB yang diterima tanpa test, berbagai jabatan organisasi kemahasiswaan di IPB pernah dipercayakan kepadanya sampai ia akhirnya menamatkan pendidikannya di IPB dan memperoleh gelar dokter hewan pada tahun 1986. Di IPB ia bahkan termasuk mahasiswa yang sangat aktif karena berbagai aktivitas keorganisasian yang diikutinya.
Tiga tahun setelah ia tercatat sebagai niahasiswa IPB, pada tahun 1980 ia dipilih menjadi Ketua Badan Kerohanian Islam Dewan Mahasiswa IPB hingga tahun 1983. Lalu pada tahun 1981 hingga 1982 dia menjadi Ketua Bidang Ekstem Senat Mahasiswa Fak. Kedokteran Hewan IPB. Pada tahun 1982 hingga tahun 1984, dia terpilih menjadi Sekjen Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Pada tahun yang sama ia juga dipilih sebagai Sekjen Majelis Permusyawaratan Mahasiswa IPB. Dan masih sebagai mahasiswa IPB, pada tahun 1981 hingga 1983, ia menjadi Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bogor yang kemudian membawanya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar PMII masa bhakti 1988-1990.

Di luar kampus, ia pernah pula menjadi Wakil Ketua Majelis Pemuda Indonesia KNPI periode 1988-1990, dan menjadi anggota Pokja Hankam DPP Golkar pada tahun 1989-1993. Sedangkan pada tahun 1994 dia menjadi anggota tim Asistensi DPP Golkar hingga tahun 1997. Fada tahun yang sama dia diangkat pula menjadi Wakil Ketua Pokja Depnaker – RMI.

Namun kesadaran terhadap keunggulan berorganisasi itu rupa-rupanya tak membuat pria yang tidak sempat menyelesaikan tesisnya untuk meraih gelar MM di Institute of Manajemen Jakarta itu berhenti belajar. Seakan tak pernah mau berhenti menimba ilmu, berbagai forum kursus dan penataran dengan antusias pemah pula diikutinya. Sepanjang tahun 1979 hingga 1982 misalnya, Iqbal terus menerus mengikuti berbagai kursus dan Penataran Kepemimpinan Mahasiswa Intra Karnpus. Di luar karnpus, sepanjang tahun yang sarna ia juga mengikuti Kursus dart Penataran Organisasi Kepemudaan Kemahasiswaan Extra Karnpus. Bahkan pada tahun 1986, selain mengikuti penataran penyuluhan Kesehatan bagi Tokoh Pemuda DPP KNPI-Depkes RI, Iqbal pun tanpa sungkan mengikuti penataran Kader KB bagi tokoh Pemuda BKKBN.

Besamya minat Iqbal untuk menimba pengalarnan dan pengetahuan itu bisa dilihat pula ketika pada tahun 1989, sebagai aktivis pemuda, ia mengikuti American Federalism and Youth Leadership di USA sebagai salah seorang delegasi pemuda Indonesia. Lalu pada tahun 1990 ia juga mengiku ti Expo Meeting Asian Youht Council di Seoul, Korea Selatan. Sekembalinya dan Korea, pada tahun itu juga ia langsung mengikuti penataran Tarpadnas Pemuda V yang diselenggarakan kantor Menpora dan Lemhanas. Setahun kemudian, pada tahun 1991, ia melakukan studi perbandingan dan Umroh Pemuda Indonesia di Saudi Arabia. Barulah pada tahun 1992, sebagai implementasi dari keterlibatannya di dunia politik, ia mengikuti penataran juru Kampanye Golkar, di Jakarta.

Menurut ternan-ternan dekatnya, semua aktivitas yang dilakoni Iqbal di luar kampus itu justru semakin menunjukkan betapa besamya minat Iqbal untuk terus mengasah kemampuan intelektualnya. Penuh aktivitas yang tak kenallelah itulah yang membuat Iqbal seakan-akan terlihat aktif dimana-mana “Dia seorang yang tidak pernah minder. Bahkan rasa percaya dirinya begitu kuat,” ujar Prasyad, teman kuliahnya semasa menjadi asisten dosen sosiologi pedesaan di IPB.

Dengan semua pengalamannya itu, tampilnya Iqbal dalam berbagai aktivitas dunia kepemudaan jelaslah bukan karena “kebetulan”. Sebab ia, seperti diceritakan Ismunandar, sudah sejak kecil membangun kemampuan memenej organisasi itu. Ketika masih SD, kata Ismunandar yang kini menjadi anggota DPRD Maluku Utara, Iqbal yang “jago” matematika itu sudah rajin mengumpulkan teman-temannya untuk belajar bersama. Dan bakat kepemimpinan itulah yang, pada perkembangannya kemudian, makin terasah ketika Iqbal dipilih menjadi Ketua OSIS SMA Negeri Ternate hingga kemudian ia menjadi mahasiswa di IPB.

Di luar kemampuan serta keterampilannya berorganisasi, Iqbal juga seorang yang menaruh minat besar terhadap berbagai persoalan kehidupan di sekitarnya, khususnya bila persoalan itu menyangkut kepentingan umat Islam. Komitmennya pada masalah-masalah agama, sosial, politik, ekonomi clan pendidikan, menjadi lebih tegas terlihat saat ia mulai memimpin Gerakan Pemuda Ansor. Komitmen seperti itu, kata Ismunandar,
dimungkinkan karena Iqbal memang hid up di tengah¬tengah keluarga pemeluk Islam yang taat dan sangat kuat menanamkan kepedulian pada persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat di lingkungannya.

Karena itulah, selain tak pernah menolak untuk mengikuti berbagai kegiatan penataran, Iqbal pun tak pernah menolak bila diminta untuk menjadi pemakalah pada berbagai seminar masalah kepemudaan maupun kemahasiswaan. Namun semua aktivitas itu ternyata tidak lantas menghentikan minat Iqbal yang besar pada masalah-masalah spritual. Menurut isterinya, Rahma, pada malam-malam tertentu Iqbal bahkan acap menziarahi makam para ulama dan para Habib. Rahma menuturkan, ia suka diajak Iqbal berziarah ke makam Luar Batang di. Jakarta Utara atau bahkan ke makam para Habib di luar Jakarta. Di makam-makam itu, kata Rahma, biasanya mereka hanya mengaji dan berdoa.

Di luar berbagai aktivitas ekternal seperti itu, Iqbal masih pula menyempatkan diri untuk mengabdikan ilmunya pada orang lain. Walaupun, kata Rahma, pada waktu itu pengabdiannya tersebut lebih karena didorong oleh desakan kebutuhan ekonomi semata-mata. Sebagai mahasiswa IPB yang berasal dari daerah, menurut Rahma, ketika itu Iqbal hidup sangat pas-pasan hingga tidak bisa menutupi kebutuhannya hanya dari mengandalkan kiriman uang hasil patungan keluarganya di Ternate yang cuma Rp. 20.000,- setiap bulannya. Karena itulah Iqbal kemudian memberanikan diri untuk menjadi Asisten Dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam IPB, Bogor. Hal itu dijalaninya sejak tahun 1979 hingga tahun 1983 ketika ia sendiri masih duduk di semester II. Pada tahun 1980 hingga 1983 itu pula, di IPB dia menjadi Asisten Prof. Sayogyo untuk Mata Kuliah Sosiologi Pedesaan. Sedang di Fak. Kedokretan Hewan sendiri, pada tahun 1984 hingga 1986, ia menjadi Asisten Dosen untuk Mata Kuliah Metode Statistika. Di luar kampus, sepanjang tahun 1982 hingga 1984, Iqbal pun bekerja menjadi guru Matematika di SMAN 3 dan SMA Yayasan Pendidikan 17 Bogor.

Semua pekerjaan itu, menurut Rahma, dilakukan Iqbal demi membiayai kuliah dan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Selama tinggal di asrama mahasiswa Ikasari Bogor, Iqbal kata Rahma, bahkan seringkali utang dan menunggak bayar makan pada Ibu Aminah, Ibu asrama mereka. “Karena itulah, sambil terus kuliah Iqbal lalu “nyambi” jadi asisten dosen dan bekerja sebagai guru. matematika,” katanya.

Bahkan setelah menikah dengan Rahma, Iqbal sempat beberapa kali pindah tempat kerja. Uniknya, dari semua pekerjaan itu hanya satu yang berhubungan langsung dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya, yang ketika ia menjadi staf Marketing dan Technical Service di perusahaan pakan ternak, PT. Gold Coin, Jakarta. Tapi pekerjaan itupun hanya dijalaninya selama satu tahun, yakni selama 1986-1987. Selebihnya, sebagai dokter hewan, Iqbal bekerja sebagai tenaga Marketing dan Technical Service di PT. Yunawaty Jakarta hingga tahun 1990. Tapi di perusahaan inicdiapun tidak bertahan lama. Tahun 1992 ia pindah kerja lagi tetapi kali ini sebagai Executive Manager di Pr. Trimuda Jaya Perdana,Jakarta hingga tahun 1993. Hanya setahun di perusahaan tersebut, ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, yakni PT. Shahnaz Swa Mandiri yang bergerak di bidang ekspedisi dan kontraktor. Sampai akhir hayatnya Iqbal masih tercatat sebagai Direktur Utama di perusahaan yang didirikannya bersama Umarsyah HS dan Rahma Muhammad tersebut.

Bagaimana buruknya kondisi keuangan Iqbal ketika mahasiswa dulu, diceritakan oleh Ismet Al-Hadar. Menurut Ismet, pada tahun 1980, ketika ia baru pulang dari Arab ke Indonesia dalam rangka liburan, Iqbal datang menemuinya. “Dia datang dengan membawa sebuah buku berjudul “Mencari Tuhan” dengan pakaian yang sangat bersih dan celana yang sangat rapi. Tapi pakaian itu ada tambalan-tambalannya. Saya waktu itu mau menangis melihatnya,” tutur Ismet. Namun, tambah Ismet, walaupun dalam kondisi seperti itu, Iqbal tidak memperlihatkan kecengengannya atau nampak frustrasi. “Dia bahkan tidak mengungkapkan sepatah pun ke1uhan untuk menyentuh sentimen saya agar bersimpati padanya,” kisah Ismet. “Kami hanya saling berpelukan dan ngobrol apa saja. Pertemuan itu sendiri hanya berlangsung sebentar. Saya kemudian kembali lagi ke Arab Saudi dan baru benar-benar balik ke Indonesia pada tahun 1982,” ujarnya.

Sejak pulang dari Arab Saudi pada tahun 1982, Ismet mengaku persahabatannya dengan Iqbal intens kembali. Meskipun Iqbal. di Bogor dan dia di Jakarta, menurut Ismet mereka secara rutin melakukan pertemuan. Intensitas persahabatan itu semakin tinggi pada tahun 1984 setelah dia benar-benar menetap di Jakarta. “Kami suka jalan bareng, main bilyar dan bahkan sesekali saya diajaknya untuk ikut mendengarkan dia memberikan ceramah pada anak-anak PMII,” tutur Ismet. Di acara¬acara PMII itulah, kata Ismet lagi, dia melihat keterlibatan Iqbal di bidang intelektual terasa kental. “Ketika itu dia mulai memberikan perhatian yang besar pada masalah-masalah politik keislaman,” kata Ismet.

Sayang, kata Ismet, selama hayatnya Iqbal tidak cukup termotivasi untuk mendukung kecerdasan intelektualnya dengan banyak membaca buku. Menurut Ismet Al-Hadar, itulah salah satu titik lemah Iqbal. “Kalau saja waktu itu Iqbal rajin membaca, saya yakin akan sulit mencari anak muda seusia dia yang memiliki kemampuan intelektualitas yang sebanding dengannya,” tutur Ismet. Namun demikian, kata Ismet, Iqbal adalah seorang yang memiliki ambisi besar untuk meneruskan pendidikannya dan berharap bisa menjadi sesuatu di kemudian hari. Ambisi itu, ujar Ismet, mungkin dimotivasi oleh pendidikan ayah dan pamannya yang begitu keras sehingga membuat semangatnya untuk keluar dari kesulitan hidup menjadi sangat besar. “Bahkan dalam  keadaan yang memperihatinkan itu dia berani melanjutkan sekolahnya ke Jawa dan kuliah di IPB. PadahaI, semasa kuliah itu dia hanya menerima kiriman uang sebesar Rp. 20.000 dari keluarganya. Itupun uang hasil patungan keluarganya di Ternate,” kata Ismet.

Apa yang diungkapkan Ismet tersebut dibenarkan Rahma. Namun menurut Rahma bukan karena Iqbal tidak punya minat baca sehingga dia tidak banyak membaca buku. “Dia tidak membaca semata-mata karena waktu itu dia memang tidak memiliki uang untuk membeli buku-buku itu,” ujar Rahma. Bahkan, kata Rahma, semasa kuliah dulu Iqbal baru membaca buku setelah meminjam dari teman-temannya. “Itupun dilakukannya pada tengah malam setelah teman-temannya tidur,” kenang Rahma.

Sebab, kata Rahma lagi, ketika Iqbal mulai punya sedikit uang, justru bukulah yang pertama-tama dicari dan dibelinya. Rahma mengisahkan, ketika tahun 1990 Iqbal ikut rombongan pemuda Indonesia ke Amerika, pulangnya diajustru tidak membawa apa-apa sebagai oleh-oleh untuk anak isterinya. Dia hanya membawa sekoper buku sebagai oleh-oleh. Dan ketika Rahma bertanya untuk apa beli buku sebanyak itu, simaklah apa jawaban Iqbal. “Dulu aku enggak bisa be1i buku, Ama. Baru sekarang inilah saatnya aku bisa beli,” ujar Rahma meniru kan kata-kata Iqbal.

Kepedulian Iqbal pada persoalan-persoalan kemanusiaan, terlebih jika itu menyangkut dunia kemahasiswaan dan kepemudaan memang terasa sangat kental. Ketika tahun 1995  Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi seiuruh Indonesia menyelenggarakan pertemuan di Jogjakarta dan berakhir dengan kisruh, Iqbal secara tegas menyatakan keprihatinannya. “Saya sangat prihatin mengikuti perkembangan dunia kemahasiswaan kita. Bukan saja karena saya menyadari bahwa masa depan kepemimpinan bangsa terletak di tangan mereka, tapi juga karena masyarakat menaruh harapan terlalu besar pada mereka,” katanya.

Keperihatinan Iqbal itu timbul karena ia melihat harapan terhadap kehidupan mahasiswa yang lebih baik di masa depan belum sungguh-sungguh terwujud. Terutama di dalam penciptaan strategi pembinaan generasi muda sehingga dapat melahirkan suasana kondusif yang memungkinkan mahasiswa tampil sebagai calon-calon pemimpin bangsa di masa datahg.

Demikian pula ketika tahun 1995 eksistensi Ormas Pemuda digugat oleh Hayono Isman, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga RI ketika itu. Hayono Isman, melalui pemyataannya mengenai OKP papan nama, melontarkan gagasan untuk membekukan Ormas-ormas pemuda papan nama tersebut. Tapi Iqbal, sebagai orang yang sangat memahami dinamika organisasi kepemudaan, mencoba menetralisir pernyataan Hayono Isman tersebut. la tidak ikut-ikut menghujat, tapi justru mencoba mendudukan persoalan pada proporsi yang sebenamya. Menurut Iqbal, OKP adalah sebuah organisasi yangtidak bisa lepas dari latar belakang kesejarahan, ideologi, doktrin dan tujuan pembentukannya. Lebih dari itu, katanya, OKP lahir dengan latar belakang yang sarat nuansa politis. “Makanya, jika pergelutan atas nuansa politis itu membuat OKP yang bersangkutan stagnan padahal tuntutan zaman sudah berubah, ia. tetap tak bisa dibubarkan. la tetap saja sebuah organisasi karena ia memiliki tujuan, rule of organization dan anggota,” bela Iqbal ketika itu.

Sikap yang sama juga diperlihatkan Iqbal ketika Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), sebagai organisasi wadah berhimpun pemuda, pada tahun 1996 dihujat oleh banyak orang karena performanya yang sangat ridak kondusif bagi kehidupan kaum muda itu sendiri. Iqbal yang pemah duduk sebagai anggota majelis pemuda Indonesia tersebut, meski mengakui tidak setuju terhadap banyak kebijakan pengurus KNPI ketika itu, toh masih memandang positif keberadaan organisasi wadah berhimpun pemuda Indonesia yang dibentuk pada tahun 1973 itu.

Menurut Iqbal, sudah sewajarnya jika pengurus KNPI memahami bahwa sebagai wadah berhimpun ia adak boleh menempatkan Ormas-Ormas pemuda yang berhimpun di dalamnya sebagai sub koordinat dari KNPI. Sebab, katanya, bukan posisi seperti itu yang diinginkan Ormas Pemuda yang ada _an berhimpun di KNPI. Seharusnya KNPI memposisikan diri lebih sebagai sarana untuk memfasilitasi aktivitas dan kreativitas kaum muda Indonesia. Dalam konteks itulah, katanya, struktur kepemimpinan di KNPI tidak bisa diposisikan sebagai kepemimpinan yang birokratis, dimana posisi Ketua Umum dan Sekjen menjadi begitu sentral sehingga tidak memberi ruang bagi teIjadinya proses dialog. Akibatnya KNPI menjadi tidak terbuka dan proses membangun kebersamaan menjadi mandeg.

Ia menambahkan, kepemimpinan dalam KNPI seharusnyalah dipandang sebagai amanah. “Terutama amanah untuk mengayomi,” katanya. Makanya, tambah Iqbal, selama pengayoman itu tidak didapat dari yang mengayomi, selama itu pula tidak ada respek dari ormas-ormas pemuda yang berhimpun di KNPI terhadap kepemimpinan di tubuh KNPI itu sendiri. Oleh sebab itulah Iqbal mendesak agar segera dilakukan revitalisasi dan reaktualisasi di tubuh KNPI. “Terutama dalam hal kinerja dan semangat keberhimpunannya,” kata Iqbal. Mengapa hal itu mendesak dilakukan, menurut Iqbal, karena sejak dibentuk tidak ada satupun pengurus KNPI yang berani berpikir secarajujur. “Yang berpikir dengan logika yang benar mengenai betapa perlunya menata kembali KNPI sebagai wadah berhimpun organisasi pemuda,” katanya.

Di luar aktivitas kemahasiswaan dan kepemimpinan itu, perhatian Iqbal dalam soal-soal keagamaan pun cukup besar. Dalam menanggapi berbagai persoalan yang menyangkut masalah keagamaan, terutama yang berkaitan dengan persoalan-persoalan ubudiyah, Iqbal memperlihatkan pemahamannya yang sangat mendalam pada inti persoalan. Baginya agama diturunkan sebagai pedoman dan pemandu bagi manusia untuk mengenal dirinya secara utuh, baik jasmani maupun rohani, agar dengan demikian manusia bisa mengenal Tuhannya. Pengenalan dan pemahaman kepada Allah yang maha kuasa, menurutnya, adalah prasyarat utama bagi manusia untuk dapat menjalankan fungsinya secara optimal sebagai hamba sekaligus sebagai khalifahNya di muka bumi. “Dengan begitu, setiap syariat agama senantiasa mengandung di dalamnya dua aspek secara utuh, yakni aspek jasmaniah, sosial kemasyarakatan (hablumminnas) dan aspek rohaniah, ketauhidan. (hablumminallah),” katanya.

Itulah sebabnya, tambah Iqbal, dalam konteks posisi dan peran, paradigma Allah dimulai dengan menempatkan makhluknya pada posisi (maqam) tertentu kemudian disusul dengan peran yang harus dilaksanakan. Sedangkan dalam paradigma manusia, posisi seseorang dicapai tatkala ia telah memainkan perannya secara optimal. “Makanya paradigma Allah harus didekati secara imaniah karena berdimensi gaib dan penuh dengan hikmah, sementara paradigma manusia didekati secara rasional objektifdan transparan tanpa dimensi keghaiban,” katanya lagi. Sayangnya, tambah Iqbal, dalam memahami makna hablumminallah wa hablumminannas ini, di sementara orang terjadi salah kaprah dengan semata-mata menerjemahkannya dalam konteks amaliah tanpa memahaminya secara utuh sebagai suatu sistem berpikir.

Dengan latar historis dan visi yang demikian itu, Iqbal kemudian melakukan berbagai terobosan pemikiran dan bahkan aksi fisik ketika ia memperoleh kepercayaan untuk memimpin sekitar 6 juta warga Ansor di seluruh Indonesia. Seharisetelah ia terpilih di kongres yang berlangsung relatif damai di Palembang, Sumatera Selatan, Iqbal dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa apa yang ingin ia lakukan pertama kali di Ansor adalah menjahit kembali kekompakan, membangun solidaritas dan menumbuhkan rasa memiliki antar sesama warga Ansor. “Sedang program saya ke depan adalah membangun ekonomi umat. Baik dengan memasuki dunia usaha lewat cara-cara yang benar, maupun dengari memfasilitasi anggota untuk menjadi kader Ansor yang produktif,” katanya. Untuk itulah, ujar Iqbal, ia siap membangun pola kemitraan dengan pemerintah dan kalangan swasta. “Saya ingin membawa Ansor menjadi organisasi yang besar tidak dalam pengertian “massa” semata-mata,” tambahnya.

Dengan pandangan yang demikian itu, Iqbal tidak lantas mengabaikan kenyataan historis yang mendasari lahir dan terbentuknya Ansor di masa lalu. Komitmennya yangjelas terhadap kenyataan historis Gerakan Pemuda Ansor yang lahir 24 April 1934 di Banyuwangi itu, telah mendorongnya untuk mengeluarkan sikap tegas ketika pada tahun 1998 di kabupaten itu mendadak teIjadi banjir darah oleh ulah sekelompok orang yang disebut-sebut pihak kepolisian sebagai “ninja”, yang membantai ratusan warga NU di Banyuwangi dengan dalih dukun santet. Demikian pula ketika di Ambon, daerah yang merupakan ibukota propinsi di mana ia dilahirkan, usai sholat Idul Fitri 1998, tiba-tiba saja terjadi “perang” saudara sehingga menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa. Dan Iqbal, dengan sangat lantang dan tegas, di depan para wartawan dalam dan luar negeri, mengatakan bahwa ia tidak bisa menerima kenyataan terjadinya “perang saudara”tersebut sebagai suatu yang muncul begitu saja. Dalam sejarah masyarakat Maluku, katanya, tidak pemah ada peristiwa yang bisa melegitimasi terjadinya perang saudara semacam itu.
Komitmennya yang tegas terhadap humanisme universal itu, ditambah lagi dengan spirit nasionalismenya yang demikian besar, membuat Iqbal kemudian dikenal  sebagai anak muda yang konsisten memegang teguh kenyataan sejarah kebangsaannya. Pada waktu para: Kyai dan warga NU di Banyuwangi dibunuh secara sadis  oleh orang-orang yang sampai kini tak diketahui “jatidirinya”, Iqbal serta merta menyatakan bahwa peristiwa pembantaian di bekas kerajaan Blambangan itu sebagai tragedi nasional. “Pembantaian biadab itu dilakukan oleh suatu gerakan terorganisir yang tak bisa dibiarkan,” katanya.

Menurutnya, pembantaian di Banyuwangi bukanlah peristiwa kriminal mumi karena sasarannya bukanlah orang yang semata-mata diduga dukun santet, melainkan banyak juga tokoh-tokoh agama dan warga masyarakat dari kalangan NU. Oleh karenanya Iqbal mengutuk keras “otak” pelaku pembantaian tersebut dan meminta pemerintah segera mengatasinya.

Link lengkap tentang M. Iqbal Assegaf : http://gp-ansor.org/biografi/m-iqbal-assegaf

Satu Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum. Artikel Biografi Iqbal ini dikutip dari buku M. Iqbal Assegaf “Sang Aktivis” yang ditulis oleh Sugeng Satya Dharma. Agar afdhol sebaiknya sumber artikel di atas disebutkan juga. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: