Hj. Khofifah Indar Parawansa

mts falakhiyah

Hj. Khofifah Indar Parawansa

Khofifah lahir tanggal 19 Mei 1965 di Surabaya. Ia menikah dengan Indar Parawansa dan mempunyai empat orang anak. Sekarang tinggal di Jalan Jemur Wonosari Gg. Lebar No. 64 RT. 007 RW. 005 Kec. Wonocolo Surabaya. Pekerjaan terakhir adalah Anggota DPR RI.

Ia lulus SD-SMA di Surabaya, lalu melanjutkan S-1 di Universitas Airlangga Surabaya (1984- 1991), STID Taruna Surabaya (1984-1989), S-2 FISIP UI Jakarta (1993-1997).

Cerita singkat tentang kepribadian khofifah Indar Parawansa :

Khofifah sang penakluk

Khofifah Indar Parawansa sejak Maret 2008 lalu sibuk bukan main. Nyaris tak ada waktu luang untuk rekreasi atau sekadar bersantai ria. Arek Surabaya asli ini harus keliling ke 38 kabupaten di Jawa Timur terkait dengan pencalonannya sebagai gubernur Jatim periode 2008-2013.

“Sekarang ponsel saya masih error nih. Sering nggak muncul nama, hanya nomornya tok,” kata Khofifah Indar Parawansa kepada kami.

Yah, sejak dicalonkan sebagai gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 oleh Koalisi Jatim Bangkit, ponsel Nokia seri E-90 miliknya tidak berfungsi dengan baik.

Maklum, arus masuk pesan singkat (SMS) terlalu banyak. Sehari sedikitnya ada 1.200 SMS. Padahal, biasanya paling banter hanya 120 pesan. Belum lagi frekuensi telepon keluar yang juga tinggi. “Banyak teman yang komplain kenapa aku gak bisa dihubungi,” katanya.

Mantan pemain hoki dan penggemar sepakbola ini mengaku masih ada 700-an pesan di HP-nya yang belum terbaca. Padahal, Khofifah punya dua asisten yang bertugas khusus untuk membuka dan membaca SMS. Lalu, pesan-pesan dicatat di buku secara manual. Setelah ada waktu senggang, Khofifah baru membacanya.

“Nggak apa-apa lah. Anggap saja ini sebagai dinamika hidup,” kata perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei 1945 itu.

Jemurwonosari, Jemurngawinan, dan Wonokromo. Di tiga kampung di Surabaya itulah Khofifah Indar Parawansa menghabiskan masa kecil hingga remajanya. “SD di Jemur Ngawinan, SMP dan SMA di Wonokromo, kuliah di Unair,” cerita Khofifah.

Menurut ibu empat anak ini, masa kecilnya tak ada yang istimewa. Sama dengan anak-anak lain. Hanya saja, Khofifah cilik itu ternyata perempuan pemberani. Bayangkan, setiap pulang sekolah dia bersama teman-teman laki-laki terjun ke sungai di Jemur. Mencari kerang air tawar.

“Waktu itu sungai yang ada di Surabaya masih bagus, sehingga banyak kerang. Sekarang kerang seperti itu harganya sangat mahal,” kenang Khofifah.

Orangtuanya, Haji Achmad Ra’i dan Hajah Rochmah–keduanya sudah almarhum–tidak melarang Khofifah pergi bermain-main di sungai. Syaratnya: saat sore menjelang magrib harus sudah berada di rumah untuk mengaji. Iklim tempat tinggalnya memang sangat mendukung untuk menjalankan ibadah. Bahkan, ketika berada di bangku kelas empat sekolah dasar, Khofifah sudah berkumpul dengan para ibu-ibu tibaan. Dia dipercaya sebagai bendahara.

“Dari sanalah saya diajarin oleh ibu saya untuk mengelola keuangan, bagaimana agar uang itu bisa dibelikan alat-alat pendukung seperti piring dan tikar,” kenang Khofifah.

Pada tahun 1970-an, masih sangat jarang orang yang punya televisi. Satu-satunya warga yang punya televisi adalah dosen IAIN Sunan Ampel. Khofifah tak absen menonton Dunia dalam Berita di TVRI pada pukul 21.00 WIB. Tuti Aditama menjadi pembaca berita favoritnya.

Khofifah pun ingin seperti Tuti Aditama. Perempuan pintar, yang tahu perkembangan dunia. “Waktu itu yang ada di pikiran saya, Tuti itu hebat, bisa tahu begitu banyak peristiwa-peristiwa di dunia,” kata Khofifah.

Menginjak bangku kuliah, Khofifah dikenal di kampungnya sebagai anak perempuan yang ugal-ugalan. Ini karena dia suka mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Kenapa? “Soalnya, saya ingin menjadi pembalap,” kata Khofifah lalu tertawa kecil. Keinginan itu bahkan diwujudkan dengan mendatangi seorang pembalap mobil.

Lalu, dia melihat-lihat aktivitas si pembalap serta kendaraannya. Namun, niatnya menjadi pembalap batal setelah tahu kalau mobil balapan itu dibuang begitu saja sehabis dipakai. “Kalau saya jadi pembalap, pakai uangnya siapa?” katanya.

Naluri tomboinya muncul lagi setelah dia bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (Impala) di Universitas Airlangga. Hampir semua gunung di Jawa Timur–dari Gukung Klotok, Kelud, Semeru–telah ditaklukkannya. Dia juga punya kesan mendalam yang sampai sekarang tak terlupakan. Apa itu?

Ketika mendaki Gunung Semeru, dia berusaha potong kompas. Hebatnya, dia selalu berjalan di depan meninggalkan kelompoknya. Hingga di suatu tempat, dia bertemu dengan ‘makhluk asing’ bersosok tinggi, putih, rambut panjang, tak pakai baju, hanya bagian kemaluannya yang ditutupi plastik. Tangan kirinya menggenggam celurit.

“Saya gemetar, takut. Untung, rombongan kelompok saya cepat datang,” katanya.

Di tengah perjalanan, dia pun bertemu dengan harimau bersama anak-anaknya. Khofifah sempat terdiam. Pelan-dia pelan melangkah mundur menjauhi binatang buas itu. Bermalam di Ranu Gembolo, Khofifah tidur di sebuah gubuk.

Sebelumnya dia telah diwanti-wanti, kalau subuh, pintu gubuk jangan dibuka. Walaupun terdengar desisan atau auman. “Itu harimau atau ular. Benar saja, ketika subuh saya dengar suara itu. Mereka mengendus bau manusia, tapi nggak apa-apa, mereka menyingkir saat matahari terbit,” katanya.

Pengalaman sering bertemu ular atau harimau di hutan-hutan ini membuat mentalnya semakin kuat. Di ranah politik, Khofifah pun tak gentar bertemu banyak ‘ular’ dan ‘harimau’.

“Jadi, saya sudah biasa dengan manuver-manuver politik. Wong saya sering ketemu macan,” katanya lalu tertawa kecil.

Di bangku kuliah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga dia dipercaya sebagai ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Surabaya. Khofifah menjadi perempuan pertama yang menjadi orang nomor satu di PMII.

Di sela-sela kesibukannya, Khofifah juga rajin menghadiri diskusi kebangsaan yang diisi oleh Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Waktu itu saya gak tahu Gus Dur itu siapa. Yang jelas, saya nilai dia pintar,” katanya.

Perempuan cerdas dan berani ini kemudian terjun ke ranah politik. Pada 1992 dia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Partai Persatuan Pembangunan. Ketua PPP Jatim Sulaiman Fadli kala itu dinilai sangat berjasa mengangkat karir politiknya ke tingkat nasional. Istri Sulaiman menjadi guru kepribadian Khofifah. Maklum, kendati sudah menjadi calon anggota parlemen di Senayan, Jakarta, Khofifah masih kurang pandai berdandan.

“Saya diberi tahu kalau sudah jadi anggota dewan pakai sandal yang haknya minimal lima senti. Warna baju minimal dua macam,” kata Khofifah.

Kenapa harus haknya tinggi? “Agar jalannya bisa pelan dan diatur. Toh, saya tetap saja jalan cepat karena kebiasaan mendaki gunung itu,” katanya.

Source :
http://cahayasura.wordpress.com
http://hurek.blogspot.com

4 Tanggapan

  1. aslm.
    bisa minta emailnya ibu khofifah ga.? atau email asisten juga boleh.
    insya allah nnti saya mau buat seminar dan mau ngundang ibu khofifah,
    trms.
    wslm.

    • Waalaikum salam Wr.wb
      insya allah akan saya usahakan untuk mencarikannya, kalo bisa nanti jg saya carikan no. HP nya. di madrasah kami ada ketua pengurus cabang Muslimat. mungkin beliau punya. kapan-kapan saya tanyakan. Insya Allah.

      syukron katsiron sudah bersilaturrahmi dan coment di blog kami.

  2. assalamu’alaikum
    bisa minta email/hp ibu khofifah soalnya mau mengundang beliau d acara kami..
    trmkash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: