Lajnah Falakiyah

Lajnah Falakiyah adalah salah satu perangkat organisasi di dalam Nahdlatul Ulama yang bertugas mengurusi masalah hisab dan rukyah, serta pengembangan ilmu falak (astronomi).Bertugas mengurusi masalah hisab dan rukyah, serta pengembangan ilmu falak (astronomi).

Sejarah Astronomi Islam

Pada masa sebelum Islam, orang-orang arab jahiliah telah memiliki pengetahuan pengetahuan dasar tentang ilmu astronomi. Namun pengetahuan yang mereka miliki belum berbentuk rumusan-rumusan ilmiah sehingga tidak pantas untuk disebut sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu astronomi dalam islam dapat dikatakan muncul dengan gemilang pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiah. Hal itu terjadi berkat hubungan mereka dengan berbagai macam kebudayaan dunia yang mereka salin dari kitab-kitab klasik karangan orang-orang India dan orang-orang Yunani.

Besarnya perhatian orang-orang arab terhadap ilmu astronomi didorong oleh kebutuhan mereka terhadap air hujan. Sebagai bangsa pengembala mereka membutuhkan rumput yang segar. Maka untuk mengetahui di mana letak tanah yang telah dituruni hujan, mereka mencatat perputaran musim. Ahmad Ali al Ma’la mengatakan di dalam bukunya Atsarul ‘Ulamail Muslimin Fil Hadlarah Al Auribuah, “Orang-orang senang menyaksikan keindahan bintang gemintang. Dia menyaksikan geraknya kemudian meneliti pertambahan dan kurangnya bulan hari demi hari. Selanjutnya bulan demi bulan dia menyaksikan miringnya matahari. Maka mereka pun membuat petunjuk-petunjuk dari matahari, bulan, dan bintang, untuk menghitung hari dan bulan, musim dan tahun, tanda-tanda waktu mengembara berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.”

Para ilmuan muslim mulai terjun ke dalam penelitian astronomis semenjak turunnya ayat suci al-Quran surat Yasin/36 ayat 38-40 dan surat Yunus/10 ayat 5 sebagai berikut.

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah ia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (falak).” (QS. Yasin/36: 38-40).

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus/10: 5)

Hisab

Tabel hisab

Secara harfiyah bermakna ‘perhitungan’. Hisab adalah melakukan perhitungan untuk mengetahui posisi bulan secara matematis dan astronomis dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender hijriah. Hisab merupakan alat bantu untuk mengetahui kapan dan di mana hilal (bulan sabit pertama setelah bulan baru) dapat terlihat. Hisab seringkali dilakukan untuk membantu sebelum melakukan rukyat.

nilai hisab asmaul husna

Pentingnya penentuan posisi matahari karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokannya. Sedangkan penentuan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawwal saat orang mangakhiri puasa dan merayakan Idul Fithri, serta awal Dzul-Hijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (9 Dzul-Hijjah) dan ber-Idul Adha (10 Dzul-Hijjah).

Dalam al-Qur’an surat Yunus (10) ayat 5 dikatakan bahwa Tuhan memang sengaja menjadikan matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya.

Juga dalam surat Ar-Rahman (55) ayat 5 disebutkan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman/55: 5)

Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda astronomis (khususnya matahari dan bulan) maka umat Islam sudah sejak awal mula muncul peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadap ilmu astronomi (disebut Ilmu Falak).

Rukyatul Hilal

santri mengamati hilal

Rukyatul Hilal adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (bulan baru). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru hijriah. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad SAW :

“Berpuasalah kamu sekalian jika melihat hilal dan berbukalah kamu jika melihat hilal. Jika terhalang maka sempurnakanlah bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari (istikmal).” (HR. Imam Bukhori Muslim, dari Sahabat Abu Hurairah). [alhusiniyah.com & berbagai sumber]

Petunjuk dalam membidik Hilal

Satu Tanggapan

  1. untuk informasi lbh lanjut tentang lajnah falakiyah dan astronomi/ilmu falak/astronomi/ilmu hisab rukyat kunjungi saja blog kami: http://lajnahfalakiyahlamongan.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: