Peranan BK dalam mengatasi Kesulitan Siswa

Peranan Bimbingan dan Konseling (BK) semakin penting di sekolah, terutama untuk mengatasi kesulitan belajar siswa. Hampir dapat dipastikan bahwa dalam satu sekolah akan didapati murid-murid yang memiliki masalah kesulitan belajar. Siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut harus diarahkan dan diberi motivasi dalam bentuk bimbingan dan penyuluhan.
Untuk menyelenggarakan layanan ini dengan baik, salah satu syarat pokok yang dikuasai adalah memahami hakikat bimbingan dan konseling itu sendiri. Bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses pemberi bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta kehidupan pada umumnya (Sukardi, 1995: 6).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa bagi yang mendapat penyuluhan nantinya akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan memberikan sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyakat pada umumnya. Dikatakan demikian, karena dengan bimbingan akan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial.
Bimbingan dapat juga diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan (Sukardi, 1983: 12).
Dalam pengertian lain dikatakan bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada seseorang (individu) atau sekelompok orang agar mereka itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian ini mencakup lima fungsi pokok, yakni (1) mengenal diri sendiri dan lingkungannya; (2) menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis; (3) mengambil keputusan; (4) mengarahkan diri; dan (5): mewujudkan diri. (Partowisastro: 1983: 7)
Dengan membandingkan pengertian bimbimbingan sebagaimana yang telah dikutip di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang secara terus menerus dan sistematis oleh pembimbing agar individu atau sekelompok individu menjadi pribadi yang mandiri. Kemandirian yang menjadi tujuan usaha bimbingan ini mencakup lima fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi yang mandiri yaitu:
1.  Mengenal diri sendiri dan lingkungannya sebagaimana adanya
2.  Menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis
3.  Mengambil keputusan
4.  Mengarahkan diri sendiri
5.  Mewujdukan diri sendiri.
Pemberian bimbingan dapat dilakukan dengan berbagai cara, serta menggunakan berbagai saluran dan bahan yang ada, misalnya memberi mereka kesempatan untuk membaca dan menelaah sebuah buku tentan sopan-santun, tata tertib, disiplin, cara belajar yang efektif, dan sebagainya.
Kata konseling dalam bahasa Indonesia diartikan dengan “penyuluhan”, yaitu bagian dari bimbingan, baik sebagai layanan maupun sebagai teknik. Layanan penyuluhan merupakan jantung hati dari usaha layanan bimbingan secara keseluruhan.
Sukardi (1983: 16) memberikan pengertian konseling sebagai suatu jenis layanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua orang individu, di mana yang seorang (konselor) berusaha membantu yang lain (klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan maslah-masalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang.
Usaha yang dilakukan di dalam konseling ini hendaknya merupakan usaha yang laras, yaitu seimbang dan sesuai dengan masalah yang dialami oleh klien dan kemampuan konselor sendiri. Karena konseling merupakan pertemuan yang paling akrab antara dua orang, yaitu konselor dan klien, maka keakraban ini harus dibina dengan baik, sehingga tercipta suasana keterbukaan dan kekeluargaan. Hal ini penting dalam upaya menggali permasalahan dan menemukan solusi yang tepat.
Dengan memperhatikan pengertian bimbingan dan konseling sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka hendaknya usaha bimbingan dan konseling tersebut tidak dilakukan oleh sembarang orang, melainkan oleh tenaga yang terlatih untuk itu. Keahlian yang dibutuhkan dalam bidang ini adalah mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap dan pandangan yang hendaknya disertai oleh kematangan pribadi dan kemauan yang kuat untuk melakukan bimbingan dan konseling.
Kepustakaan:
Sukardi, Dewa Ketut. 1983. Organisasi Administrasi Bimbungan dan Konseling di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional.
Sukardi, Dewa Ketut. 1995. Proses Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Partowisastro, H. Koestoer. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah-sekolah. Jakarta: Erlangga.
Iklan

Potret gaya mengajar guru

Gaya dan strategi mengajar guru hendaknya mendorong terciptanya iklim belajar yang kondusif. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada anak didik untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong mereka untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar mengajar, dan karena itu akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. Itulah sebabnya mengapa setiap siswa perlu diberi kebebasan melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan ingin dilakukannya.
Guru seringkali membuat banyak aturan yang harus ditaati oleh siswa, sehingga menyebabkan anak-anak selalu diliputi rasa takut dan rasa bersalah. Lebih jauh lagi, anak-anak akan kehilangan kebebasan berbuat dan melakukan kontrol diri (kontrol diri, dalam hal ini, bisa menjadi modal awal penumbuhan penghargaan pada keragaman).
Berikut ini dipaparkan sejumlah gaya dan strategi mengajar guru yang cenderung membelenggu kreativitas dan menghambat perkembangan karakter siswa.
1. Gaya Memerintah
Gaya ini paling sering terjadi, karena guru merasa memiliki kekuasaan tertinggi di dalam kelas. Anak harus patuh dan taat pada perintah guru, siapa yang melanggar akan ditundukkan melalui perintah dan ancaman.
Misalnya:
Diam, Ibu tidak suka kamu bicara ketika saya menjelaskan …!”
“Berapa kali saya katakan, jangan main di dalam kelas…!”
2. Gaya Memojokkan
Gaya ini sering terjadi ketika kesabaran guru sebagai pendidik menjadi tawar, tidak mau mengambil resiko dan tanggung jawab, selalu menuding anak sebagai sumber kesalahan.
Misalnya:
Nah, betul kan, kalau Pak Guru menerangkan, kamu tidak pernah serius memperhatikan. Lihat, hasil ulanganmu jelek sekali…!”
Gara-gara kamu malas belajar, sehingga diremedi terus…!”
3. Gaya Meremehkan
Gaya ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman guru terhadap sifat dan karasteristik masing-masing siswa. Guru cenderung meremehkan anak yang agak lamban atau terhadap anak yang suka usil dan nakal.
Misalnya:
Masa, soal begini saja, kamu tidak bisa kerjakan, dasar beleng (bego)…!”
“Hei, kamu duduk di sana saja, biar tidak ribut dan mengganggu…!”
4. Gaya Membandingkan
Gaya ini terjadi karena guru memiliki harapan yang terlalu tinggi dan berlebih-lebihan, sekakan-akan kemampuan anak sama semua.
Misalnya:
Apa kalian tidak malu, sama kelas lain yang berprestasi..?”
“Apa kamu tidak malu sama adikmu yang selalu juara kelas …?”
5. Gaya Mengancam
Gaya ini menunjukkan ketidakmampuan dan ketidaksiapan guru dalam menghadapi berbagai perilaku anak. Guru sering mengancam, karena tidak mau terlibat secara aktif dalam kondisi yang tidak diharapkan.
Misalnya:
“Hei, diam, ribut saja kerja kalian, awas …!”
“Kenapa masih cengar-cengir di situ, mau dihukum ya? Ayo keluar …!”
6. Gaya Menasehati
Gaya ini merupakan gaya kakek dan nenek menasehati cucunya. Tidak lugas dan bertele-tele. Gaya ini sering membuat murid-murid menjadi tidak sabar.
Misalnya:
Makanya, sudah berapa kali Ibu katakan, setiap upacara hari Senin pun Bapak/Ibu Guru selalu sampaikan, kalau ke sekolah jangan lupa sarapan dulu, beginilah akibatnya. Kamu harus ingat, sarapan pagi itu penting sekali untuk menjaga stamina, menjaga kesehatan agar dapat belajar dengan baik, sebab kalau tidak, maka …………. dst. …!” (sementara itu anak sudah keringat dingin menahan rasa sakit perut, karena Ibu Guru terlalu lama berbicara)
7. Gaya Menghibur
Sekilas gaya ini sepertinya bagus, terlihat akrab, tapi tidak dapat menyelesaikan inti permasalahan.
Misalnya:
“Ya sudah, kamu jangan terlalu cemas, nanti juga orang tuamu datang menjemput …!” (sambil mengelus pundak muridnya yang sedari tadi gelisah karena terlalu lama menunggu jemputan)
8. Gaya Mencap/Menstempel/Mengkritik
Gaya ini termasuk melanggar hak asasi anak. Gaya ini biasanya terjadi karena adanya sepenggal kelakuan anak sebelumnya yang terlanjur melekat pada penilaian guru.
Misalnya:
“Kamu memang tidak tahu aturan, persis seperti kelakuan kakakmu dulu yang tidak sopanitu…!” 
tuanguru

Guru sebagai pembentuk kepribadian

Guru dalam kapasitas sebagai pendidik profesional tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis edukatif, tapi juga harus memiliki kepribadian yang kokoh sehingga dapat menjadi sosok panutan bagi siswa, keluarga, maupun masyarakat. Guru memegang peran dan kedudukan strategis dalam mempersiapkan SDM yang berkualitas. Olehnya itu guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
 
Untuk menjalankan tugasnya sebagai pembimbing, guru harus menjadikan dirinya sebagai tempat bertanya, mengadu, meminta pendapat, berkelu kesah. Melalui bimbingan yang berlandaskan kasih sayang, siswa akan mendapatkan bimbingan untuk menjalani kehidupan, baik yang sedang dijalani saat ini, maupun bekal kehidupan di masa yang akan datang.
Seorang guru yang ramah, hangat dan selalu tersenyum, tidak memperlihatkan muka masam atau kesal, merespon pembicaraan anak didik, akan menumbuhkan kondisi psikologis yang menyenangkan bagi siswa. Siswa tidak takut berbicara, dapat mencurahkan isi hatinya  saat menghadapi masalah dan akan senang melibatkan diri dalam kegiatan di sekolah. Perilaku ini merupakan hasil dari mengikuti atau meneladani perilaku yang diperlihatkan pendidik dengan penuh kasih sayang.
Guru di sekolah bertanggung jawab membimbing anak didik menjadi pribadi bermoral, berakhlak mulia, kasih sayang terhadap sesama, dan sebagainya, sehingga guru menunjukkan sosok pribadi yang utuh, berpribadi stabil, tidak emosional, penuh kasih sayang sehingga menjadi teladan bagi anak didiknya. Dengan demikian tugas guru sebagai pembentuk kepribadian siswa di sekolah merupakan hal yang tidak mudah.
Sejalan dengan peranan guru sebagai pembentuk kepribadian siswa, menarik untuk disimak puisi Dorothy Law Nolte, berjudul Children Learn What They Live:
Anak-anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Guru memiliki peran penting sebagai pembentuk kepribadian siswa. Untuk itu seorang guru wajib memiliki kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan memahami karakteristik peserta didik, sehingga dapat membantu siswa dalam proses perkembangannya, membantu siswa menjalani kehidupan sebagai bekal masa depan. Keteladanan seorang guru tentunya amat dibutuhkan sebagai aspek utama untuk menumbuhkan kepercayaan siswa, menjadikan guru sebagai sosok yang dapat ditiru dan digugu.

Teori belajar dan pembelajaran Matematika

Menurut J. Bruner dalam Hidayat (2004:8) belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya. Pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar mengajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan itu dipelajari dalam tahap-tahap sebagai berikut:
a.  Tahap Enaktif

Suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi yang nyata.

b.  Tahap Ikonik

Suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery), gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif.

c.  Tahap Simbolik

Suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak, baik simbol-simbol verbal (misalkan huruf-huruf, kata-kata atau kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika maupun lambang-lambang abstrak lainnya (Hidayat, 2004:9).
Suatu proses belajar akan berlangsung secara optimal jika pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, dan kemudian jika tahap belajar yang pertama ini dirasa cukup, siswa beralih ke tahap belajar yang kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik. Selanjutnya kegiatan belajar itu dilanjutkan pada tahap ketiga, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik.
Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004:1).
Agar tujuan pengajaran dapat tercapai, guru harus mampu mengorganisir semua komponen sedemikian rupa sehingga antara komponen yang satu dengan lainnya dapat berinteraksi secara harmonis (Suhito, 2000:12). Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah pemanfaatan berbagai macam strategi dan metode pembelajaran secara dinamis dan fleksibel sesuai dengan materi, siswa dan konteks pembelajaran (Depdiknas, 2003:1). Sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran serta media yang cocok dengan materi atau bahan ajaran.
Dalam pembelajaran matematika salah satu upaya yang dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah karena dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat memberikan siswa kesempatan seluas-luasnya untuk memecahkan masalah matematika dengan strateginya sendiri. Sedangkan penggunaan media dalam pembelajaran matematika sangat menunjang, karena dengan menggunakan media pembelajaran siswa lebih mudah memahami konsep matematika yang abstrak.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kurikulum 2006) yang berakarkan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (Depdiknas, 2003:8) menyatakan bahwa potensi siswa harus dapat dikembangkan secara optimal dan di dalam proses belajar matematika siswa dituntut untuk mampu: 
a.  Melakukan kegiatan penelusuran pola dan hubungan,
b.  Mengembangkan kreatifitas dengan imajinasi, intuisi dan penemuannya,
c.  Melakukan kegiatan pemecahan masalah,
d.  Mengkomunikasikan pemikiran matematisnya kepada orang lain.
Untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang menyenangkan, memperhatikan keinginan siswa, membangun pengetahuan dari apa yang diketahui siswa, menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan kegiatan yang menantang, memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan, menghargai setiap pencapaian siswa (Depdiknas, 2003:5).
Selain itu di dalam mempelajari matematika siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda sehingga diperlukan usaha guru untuk:

  1. Menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga atau media pembelajaran yang menarik perhatian siswa
  2. Memberikan kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan
  3. Memberikan kesempatan menggunakan metematika untuk berbagai keperluan
  4. Mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan matematika baik di sekolah maupun di rumah
  5. Menghargai sumbangan tradisi, budaya dan seni di dalam pengembangan matematika
  6. Membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya.
Dari kurikulum di atas dapat ditegaskan bahwa guru dalam melakukan pembelajaran matematika harus bisa membuat situasi yang menyenangkan, memberikan alternatif penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang bisa digunakan pada berbagai tempat dan keadaan, baik di sekolah maupun di rumah.
Kepustakaan:
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdiknas.
Hidayat. 2004. Diktat Kuliah Teori Pembelajaran Matematika. Semarang: FMIPA UNNES.
Suhito. 1990. Strategi Pembelajaran Matematika. Semarang: FPMIPA IKIP Semarang.
Suyitno Amin, Pandoyo, Hidayah Isti, Suhito, Suparyan. 2000. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: Pendidikan Matematika FMIPA UNNES

Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

A. Latar Belakang
Menurut Johson dan Smith dalam Anita Lie (2002:5), “kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antar pribadi. Belajar bukan hanya proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan yang lain dan membangun pengertian dan pengetahuan bersama.
Meskipun telah digulirkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, namun kenyataannya masih banyak sekolah yang masih menggunakan paradigma lama yakni hanya menerapkan pola pembelajaran satu arah di kelas (guru ke murid), sehingga umpan balik (feedback) sulit untuk terjadi.
Guru yang melakukan kegiatan belajar mengajar hanya berorientasi pada tujuan-tujuan dan materi pembelajaran, mereka ini menerapkan apa yang oleh Paulo Freire disebutbanking concept. Konsep bank menurut Pauleo Freire adalah cara guru yang memandang bahwa mengajar itu seperti orang yang memasukkan uang ke bank. Uang dimasukkan ke bank dan akan mendapat bunga. Guru mengajar dan murid belajar, guru menerangkan dan murid mendengarkan, guru bertanya dan murid menjawab. Konsep itu tidak manusiawi (Freire:1972) dalam Nasution (1989:31) dan terjadi sekarang ini seperti yang dikemukakan oleh Paulo Freire tersebut. Guru hanya melakukan kegiatan belajar mengajar yang terbatas di dalam kelas sementara tidak melihat sisi lain dari interaksi tersebut.
Tugas guru tidak hanya pada kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi juga melakukan bimbingan di luar kelas, khususnya mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa, baik kesulitan mengenai pelajaran ataupun masalah psikologi yang diperolehnya dari luar, seperti keluarga dan teman pergaulan. Perilaku guru merupakan salah satu faktor yang berperan dalam memotivasi semangat belajar para peserta didik. Suatu kondisi yang menyenangkan apabila guru dapat menunjukkan sikap yang akrab, bersahabat dan memahami situasi di dalam kelas saat mengajar dan saat ia di luar kelas. Perilaku guru seperti itu dapat menunjang prestasi belajar siswa.
B. Pengertian Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi adalah suatu proses yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang dijadikan objek untuk menyampaikan sesuatu dengan berbagai cara agar pesan dapat dimengerti atau dipahami. Komunikasi dikatakan berhasil jika pihak yang menyampaikan pesan kepada pihak lain diterima dan dimengerti maksudnya. Komunikasi bukanlah semata-mata bagaimana terjadinya suatu informasi atau percakapan antara satu pihak (orang) kepada orang lain, tetapi diperlukan juga suatu sistem rangkaian mulai dari yang menyampaikan pesan (informasi).
Komunikasi antar pribadi merupakan salah satu bentuk komunikasi manusia yang dianggap paling efektif dibandingkan dengan bentuk komunikasi antar manusia lainnya. Keistimewaan komunikasi antar pribadi melalui tatap muka terletak pada efek umpan balik, aksi dan reaksi langsung dapat terlihat antara komunikator dan komunikan baik secara verbal maupun non verbal. Jarak fisik partisipan yang dekat dan dilakukan dengan saling pengertian dapat mengembangkan komunikasi tersebut termasuk dalam kerangka hubungan guru dan siswa.
Definisi yang dijadikan acuan dalam tulisan ini adalah: “komunikasi antarpersonal menurut Devito (1976) dalam Liliweri (1991:12) merupakan pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain, atau sekelompok orang dengan efek atau umpan balik yang langsung”.
Hubungannya dengan guru dan siswa, Nasution dalam Sofyataningrum (2000) mengatakan bahwa “umpan balik digunakan untuk membantu siswa-siswa dalam mengatasi kesulitan, baik klasikal maupun secara individual, sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik”.
C. Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi
Secara umum penerapan komunikasi antar pribadi siswa dan guru yang efektif terlihat dari komunikasi antar pribadi guru dan siswa dalam menentukan percakapan dan memiliki umpan balik yang langsung. Komunikasi ini dapat juga berlangsung melalui medium seperti telepon dan IT.
Perhatian yang diberikan oleh guru dapat berbentuk pendampingan kegiatan belajar serta memberi perhatian dalam berbagai masalah yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa. Hal ini akan memberi kesan bagi siswa bahwa mereka mendapat rasa empati yang cukup.Keterbukaan dalam penyampaian pesan secara timbal balik antara guru dan siswa dengan bebas (terbuka). Sikap dan perilaku yang baik dari guru kepada siswanya yang dapat mendorong siswa tersebut berperan secara aktif dan mau membuka diri atas masalah yang mereka hadapi. Hal ini menjadi faktor pendorong terjalinnya saling pengertian antara guru dan siswa menyangkut pentingnya pesan guru dalam memberikan nasehat dan pengarahan kepada siswa dan sebaliknya siswa secara timbal balik mampu menanggapi hal tersebut dengan baik tanpa merasa terpaksa.Bentuk dukungan yang diberikan berupa pemberian semangat melalui pesan-pesan yang disampaikan dengan cara memotivasi siswa untuk belajar lebih giat dalam meningkatkan prestasinya, disertai pula empati dimana guru ikut merasakan masalah yang dihadapinya siswanya, mengerti keinginannya dan begitupun sebaliknya siswa.
Penerapan komunikasi yang intensif dapat memacu perkembangan kecerdasan dan prestasi anak didik. Dalam hal ini, indikator peningkatan prestasi belajar siswa ditunjukkan dalam bentuk kuantitatif pada nilai rapor sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran.
D. Penutup
Penerapan komunikasi antar pribadi siswa dan guru apabila berlangsung secara efektif, akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi antar pribadi dalam meningkatkan prestasi prestasi belajar siswa adalah sikap keterbukaan guru dan siswa, perhatian guru kepada siswa, pemberian dukungan yang tinggi dan terus menerus, serta empati, yakni kemampuan guru memahami permasalahan dan keinginan siswa.
Kepustakaan:
Budyatna, M. Komunikasi Antar Pribadi. Jakarta: Universitas Terbuka, 1994.
Cangara, Mafied. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers, 1998.
Liliweri, Alo. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991.
Nasution, S. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 1982.
Supratiknya, A. Komunikasi Antarapribadi Tinjauan Psikologis. Bandung: Kanisius, 1995.
tuanguru.net

Guru Ideal dalam Pandangan Siswa

Guru ideal, menurut kalian seperti apa sih?
Dari beberapa pertanyaan yang telah saya ajukan kepada siswa-siswi tentang “Guru ideal”, ternyata kebanyakan dari mereka menjawab, “Guru ideal” adalah guru yang sabar, pengertian, dan pandai dalam menyampaikan pelajaran yang diajarkan, standar memang jawaban yang mereka lontarkan.
Tetapi saya punya pandangan sendiri tentang “Guru ideal”. Pada dasarnya, “Guru ideal” dengan “guru favorit” hanya beda tipis. Hanya saja faktor keberuntungan yang membedakan, maksudnya : “Guru ideal” adalah guru yang benar-benar memiliki kriteria yang diinginkan oleh setiap murid, tapi belum tentu diidolakan oleh banyak muridnya. Sedangkan “Guru favorit” adalah guru yang diidolakan oleh banyak muridnya, walaupun bukan karena memenuhi kriteria guru ideal. Misalnya, karena guru tersebut memiliki wajah yang rupawan sehingga banyak murid yang mengidolakan dan nge-fans kepada guru tersebut. wah kaya’ artis donk !
Namun begitu, saya cenderung lebih memilih “Guru ideal”, karena sosok guru ideal benar-benar mengerti apa yang murid-muridnya inginkan. Bagaimana dengan kalian ?

menurut catatan yang dipublikasikan oleh tuanguru.net, Seorang guru dikatakan ideal adalah guru yang senantiasa menjadi dambaan peserta didik, menjadi panutan dan selalu memberikan keteladanan. Guru ideal adalah yang menguasai ilmunya dengan baik sehingga mampu mengelola pembelajaran yang bermakna. Dia disukai oleh murid-muridnya karena cara mengajarnya menarik dan mudah dipahami. Dia pun terbuka menerima kritikan dari peserta didiknya, karena dari kritik itulah dia belajar dari para peserta didiknya. Dari mereka guru dapat mengetahui kekurangan cara mengajarnya, dan melakukan umpan balik.

Salah seorang guru MTs. Falakhiyah Jampet, Isna Mahirriyanto, S.Pd., melakukan penelitian dilapangan. Dengan mengambil 100 siswa sebagai responden, mencoba mengurai dan mengumpulkan pendapat siswa-siswi.

Para responden terdiri dari kelas VII, VIII dan IX diminta menuliskan ciri-ciri guru ideal. Data yang terkumpul kemudian dipilih, pernyataan yang sama atau memiliki kemiripan disatukan, dan keluarlah kriteria karakteristik guru ideal menurut pandangan siswa. Untuk menjaga keasliannya, kata-kata tersebut ditampilkan sesuai aslinya dan diurut berdasarkan frekuensi jawaban siswa. Dan inilah pendapat mereka tentang sosok guru ideal :

  1. Baik hati
  2. Tidak suka marah-marah
  3. Ramah
  4. Murah senyum
  5. Tidak membanding-bandingkan antar siswa
  6. Cara mengajarnya menyenangkan
  7. Tidak pilih kasih
  8. Dapat memberikan materi yang mudah diserap oleh muridnya
  9. Tegas
  10. Humoris/lucu
  11. Disiplin dalam mengajar, tapi tidak membuat siswa tegang
  12. Tidak terlambat masuk mengajar (tepat waktu)
  13. Santai dalam mengajar siswa
  14. Kata-katanya halus, tidak menyinggung
  15. Sabar menghadapi murid yang nakal
  16. Memerhatikan murid-muridnya
  17. Selalu memberikan tugas agar siswa rajin belajar di rumah
  18. Menerima curhat dari siswa
  19. Memberikan kompetensi dasar kepada siswa, agar siswa mengetahui dan mempelajari materi yang akan dipelajari di sekolah
  20. Tidak merokok saat mengajar
  21. Menuntun siswa yang kurang dalam pelajaran
  22. Pintar
  23. Selalu memberikan arahan sebelum dan sesudah mengajar
  24. Senang jika murid bertanya
  25. Pengertian
  26. Beriman
  27. Berwibawa
  28. Membuat siswa menjadi rukun
  29. Mengajar tanpa kata lelah

Data di atas menunjukkan bahwa siswa lebih mengedepankan aspek kepribadian dibanding kemampuan intelegensi (kepandaian). Kriteria guru ideal yang pintar hanya menempati urutan ke-22 (ditulis 2 siswa). Saatnya guru-guru meningkatkan kecerdasan emosionalnya agar dapat menjadi guru ideal bagi siswa, sehingga pada gilirannya tercipta suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Semoga tulisan ini bisa menjadi refleksi seorang guru dalam mengimplementasikan ilmunya kepada peserta didik di madrasah. 

Multiperan Guru sebagai pendidik

A. Latar Belakang
Multiperan guru adalah serangkaian usaha yang dilakukan dan diupayakan oleh guru sebagai pendidik. Sekaitan dengan ini, H. Mohamad Surya memandang bahwa peran guru bukan hanya di sekolah, melainkan juga di luar sekolah, misalnya di lingkungan keluarga dan di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, guru memiliki peran yang kompleks, karena  ia bukan hanya berkedudukan sebagai tenaga pendidik di sekolah, tetapi ia juga memiliki kedudukan yang sama sebagai pendidik di luar sekolah dan sejumlah peran lainnya.
B. Multiperan Guru di Sekolah
Proses belajar mengajar di sekolah merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. 
Sesuai dengan hasil telaahan penulis, ditemukan berbagai tulisan yang dikemukakan para pakar pendidikan tentang peran-peran (multiperan) yang diemban oleh guru di lingkungan sekolah yang utama adalah sebagai pendidik, pengajar dan pelatih peserta didik. Akan tetapi, sesuai adanya perkembangan baru sekitar proses belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan perannya, karena proses belajar mengajar sebagian besar ditentukan oleh peran guru di sekolah. Peran guru dalam proses belajar mengajar di sekolah selain peran utamanya adalah meliputi banyak hal, antara lain:
1. Guru Sebagai Demonstrator dan Motivator
Sebagai demonstrator, maka guru memiliki peran dalam memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis, dan apa yang disampaikannya itu betul-betul dapat dimiliki oleh peserta didik, sehingga mereka (peserta didik) akan mampu mengembangkan dalam arti meningkatkan kemampuannya pada tingkat keberhasilan yang lebih optimal. Untuk sampai ke tujuan tersebut, maka di samping guru sebagai demonstrator, ia juga berperan sebagai motivator, yakni merangsang dan atau memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi peserta didik, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar. Dalam semboyan pendidikan di Taman Siswa sudah lama dikenal dengan istilah ing ngaso sun tulodo dan ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.  Dengan semboyang ini, maka sangat nampak bahwa peranan guru sebagai motivator sangat penting dalam interaksi belajar mengajar, karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran sosial, menyangakut performance dalam arti personalisasi dan sosialisasi diri.
2. Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator, maka guru berperan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Mediator menurut Sudirman AM, berarti guru sebagai penyedia media, yakni bagaimana upaya guru meyediakan dan mengorganisasikan penggunaan media pembelajaran. Karena guru sebagai mediator, praktis bahwa ia juga berperan sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar yang sedemikian rupa, dan serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar akan berlangsung secara efektif. Hal ini, sesuai dengan paradigma “Tut Wuri Handayani”.
3. Guru sebagai Evaluator dan Pengelola Kelas
Sebagai evaluator, maka guru berperan mengadakan evaluasi, yakni penilaian terhadap hasil yang telah dicapai oleh peserta didik. Dengan penilaian, guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian, penguasaan peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan. Sekiranya, peserta didik belum sampai pada tingkat keberhasilan, maka guru dituntut lagi untuk lebih berperan sebagai pengelola kelas, dalam arti bahwa ia berperan sebagai learning manager, yakni mengelola kelas dan mengarahkan lingkungan kelas agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan untuk keberhasilan siswa secara optimal.
Multiperan guru sebagaimana diuraikan di atas, sangat penting penjabaran-nya, dan akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan berfungsi dengan baik, karena berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran.
Masih terkait dengan multiperan guru, oleh Mohamad Surya menyatakan bahwa peran guru di sekolah adalah dalam keseluruhan kegiatan pendidikan di tingkat operasional, guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional, intsruksional, dan eksperiensal. Hal yang demikian ini mengandung makna bahwa peran harus dipertahankan, bahkan sebaiknya lebih ditingkatkan. Karena itu, maka guru juga dituntut untuk memiliki komitmen yang kuat dalam upaya menfungsikan multiperannya secara utuh dan menyeluruh.
C. Multiperan Guru di Luar Sekolah
Di luar sekolah, guru juga memiliki multiperan yang signifikan. Di lingkungan keluarga misalnya, guru merupakan unsur keluarga sebagai pengelola (suami atau isteri), sebagai anak, dan sebagai pendidik dalam keluarga. Hal ini mengandung makna bahwa guru sebagai unsur keluarga harus mampu mewujudkan keluarga yang kokoh, sehingga menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara keseluruhan.
Menurut Mohamad Surya, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, guru merupakan unsur strategis sebagai anggota, agen, dan pendidik masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, guru harus menunjukkan kepribadiannya secara efektif agar menjadi teladan bagi masyarakat di sekitarnya. Sebagai agen masyarakat, guru berperan sebagai mediator antara masyarakat dan dunia pendidikan. Dalam hal ini, Moh. Uzer Usman menyatakan bahwa guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah-masalah pendidikan. Guru juga sebagai pemimpin  generasi muda, maka masa depan generasi muda terletak di tangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin mereka dalam mempersiapkan diri untuk anggota masyarakat yang dewasa.
Ringkasnya, multiperan guru yang disebutkan di atas, jika berfungsi sebagaimana mestinya, maka akan membawa lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat pada suasana edukatif, sehingga akan tercipta lingkungan yang berpendidikan, terarah dan menyeluruh, baik di sekolah maupun di luar sekolah, misalnya dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam pandangan penulis bahwa multiperan guru di luar sekolah, perlu diwujudkan secara nyata melalui satu pendekatan dan program yang dilaksanakan secara profesional, sistemik, sinergik, dan simbiotik dari semua pihak terkait.
D. Penutup
Multiperan guru sangat kompleks dan tidak hanya dimainkan di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Di sekolah, guru selain berperan sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih peserta didik, ia juga berperan sebagai demonstrator, motivator, mediator, fasilitator, evaluator, dan pengelola kelas. Sementara itu, di luar sekolah, guru berperan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sumber:
Sudirman AM. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000.
Surya, H. Mohamad. Percikan Perjuangan Guru. Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2003.
Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004
tuanguru.net