qiraat

qur’sn

Vodpod videos no longer available.

Qiraat, posted with vodpod

 

Iklan

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Penulisan Sejarah itu sangat penting, terutama bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Karena dari sejarahlah kita bisa mendapat pelajaran yang sangat berguna untuk menjalani kehidupan di masa kini maupun untuk besok. Dari sebuah sejarah yang bagus kita bisa menirunya, kemudian dari sejarah yang kelam kita bisa berusaha untuk menghindari agar sejarah tersebut tidak akan terulang lagi.

Pemahaman akan sejarah Islam penting artinya, baik bagi Siswa, guru maupun bagi masyarakat, karena sejarah Islam mengandung pelajaran menyangkut kebijakan, kearifan, moral, politik, dan lain-lain. Pentingnya arti sejarah Islam, disadari ataupun tidak, sebenarnya sudah dipahami secara umum. Hal itu tercermin dari ungkapan : “Belajarlah dari sejarah”, “Sejarah adalah obor kebenaran”, “Sejarah pedoman untuk membangun masa depan”, dan lain-lain. Atas dasar itulah, Bung Karno (almarhum) berpesan : “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” (“Jas Merah”). Karena memahami hal-hal yang sudah terjadi dengan arif, penting artinya untuk menghadapi kehidupan masa kini dan untuk menyonsong kehidupan di masa mendatang.

Atas Dorongan dan dukungan dari berbagai pihak terkait di madrasah, maka dalam weblog https://mtsfalakhiyah.wordpress.com -weblog ini- disertakan kategori tentang sejarah. Dengan tujuan agar siswa mengetahui arti penting dan manfaat sejarah, serta agar siswa dapat mengenali beberapa tokoh-tokoh penting yang masuk dalam kategori sejarah tersebut.

==============================================================
Dibawah ini ada beberapa link yang berkaitan dengan Sejarah Islam Di Indonesia :
==============================================================

=> Pengertian Sejarah
—————————————————————————————-
=> Sejarah Islam Di Indonesia
—————————————————————————————-
=> Tokoh-tokoh Penyebar Islam Di Indonesia
+ Walisongo
—————————————————————————————-
+ Syekh Datuk Kahfi
—————————————————————————————-
+ Syekh Jumadil Qubro
—————————————————————————————-
+ Syekh Yusuf Tajul Khalwati
—————————————————————————————-
+ Abdurrauf Singkil

SYEIKH ABDURRAUF SINGKEL

SYEIKH ABDURRAUF SINGKEL

Nama lengkapnya adalah Syekh Abdurrauf Ali Al Fansury Al Singkily Al Jawi. Beliau adalah penyair, budayawan, ulama besar, pengarang tafsir, ahli hukum, cendikiawan muslim dan seorang Sufi yang sangat terkenal di Nusantara yang lahir pada tahun 1615 atau 1620 di Singkel, sebuah kabupaten di Aceh Selatan. Dia berasal dari kalangan keluarga muslim yang taat beribadah. Ayahnya berasal dari Arab bernama Syeikh Ali dan ibunya seorang wanita berasal dari desa Fansur Barus—sebuah pelabuhan (bandar) yang sangat terkenal waktu itu. Dimasa mudanya mula-mula Abdurrauf belajar pada Dayah Simpang Kanan di pedalaman Singkel yang dipimpin Syeikh Ali Al-Fansuri ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Barus di Dayah Teungku Chik yang dipimpin oleh Syeikh Hamzah Fansury. Ia sempat pula belajar di Samudera Pase di Dayah Tinggi yang dipimpin oleh Syeikh Samsuddin as-Sumatrani. Setelah Syeikh Samsuddin pindah ke Banda Aceh lalu diangkat oleh Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil, Abdurrauf pun pergi mengembara. Beliau tidak suka menetap di kota kelahirannya. Beliau lebih suka memilih mengembara meninggalkan kota kelahirannya untuk menuntut ilmu di berbagai pelosok nusantara dan Timur Tengah. Abdurrauf selalu merasa haus terhadap ilmu pengetahuan. Beliau pernah belajar hampir dua puluh tahun di Mekkah, Madinah, Yaman dan Turki. Sehingga tidak mengherankan kalau Beliau menguasai banyak bahasa, terutama bahasa Melayu, Aceh. Arab dan Persia. Disebutkan selama belajar ilmu agama di Timur Tengah, Syeikh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan 15 orang sufi termashyur. Tentang pertemuannya dengan para sufu itu, ia berkata “adapun segala mashyur wilayatnya yang bertemu dengan dengan fakir ini dalam antara masa itu…”. Pada tahun 1661 M Syeikh Abdurraur kembali ke Aceh dengan memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syeikh Jamiah Baitur Rahim, untuk menggantikan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Mengenai pendapatnya tentang faham Syeikh Hamzah Fansuri (Tarekat Wujudiah) nampaknya berbeda dengan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Beliau tidak begitu keras, Walaupun Syeikh Abdurrauf termasuk penganut faham tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasawuf. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir. Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, maka perkataannya itu akan berbalik kepada dirinya sendiri. Karya tulisnya yang diketahui lebih kurang dua puluh buah dalam berbagai bidang ilmu—sastra, hukum, filsafat, dan tafsir, antara lain;

1. ‘Umdat al-Muhtajin ila suluki Maslak al-Mufridin;

Dengan terjemahannya sendiri; Perpegangan Segala Mereka itu yang Berkehendak Menjalani Jalan Segala Orang yang Menggunakan Dirinya. Dalam karya ini diterangkannya tentang tasawuf yang dikembangkannya itu. Dzikir dengan mengucap La Illah pada masa-masa tertentu merupakan pokok pangkal tarikat ini. Kitab tersebut terdiri atas tujuh faedah dan bab. Sesudah faedah yang ketujuh diberinya khatimah yang berisi silsilah. Di samping memberi penjelasan tentang ajaran Abdur-Rauf, silsilah ini juga memberikan gambaran di mana dengan cara apa ulama-ulama dan pengarang-pengarang besar Melayu lainnya mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam kitab ini pula ia menyebut telah berada selama sembilan belas tahun di negeri Arab.

2.Mir’at al-Tullab fi Tashil Ma’rifat al-Ahkam al-Syar’iyah li’l-Malik al-Wahab.

Dalam kitab ini disebutnya ia mengarang atas titah Sultanah Tajul-Alam Safiatuddin Syah. Isinya ialah ilmu fikah menurut mazhab Syafi’i. Ilmu mu’amalat yang tidak dibicarakan dalam Sirat al-Mustaqim karangan Nuruddin ar-Raniri, dimasukkan disini.

3. Kifayat al-Muhtajin ila Suluk Maslak Kamal al-Talibin.

Dalam karya ini disebutnya ia dititahkan oleh Sultanah Tajul-Alam untuk mengarang. Isi kitab ini ialah tentang ilmu tasawuf yang dikembangkan oleh Abdur-Rauf.

4. Mau’izat al-Badi’ atau al-Mawa’ith al-Badi’ah.

Karya ini terdiri atas lima puluh pengajaran dan ditulis berdasarkan Qur’an, hadith, ucapan-ucapan sahabat Nabi Muhammad saw serta ulama-ulama besar.

5. Tafsif al-Jalalain.

Abdur-Rauf juga telah menterjemah sebagian teks dari Tafsir al-Jalalain, surah 1 sampai dengan surah 10.

6. Tarjuman al-Mustafiq.

Merupakan saduran dalam bahasa Melayu dari karya bahasa Arab ini. Dalam sebuah naskah Jakarta disebut ada tambahan dari murid Abdur-Rauf, Abu Daud al-Jawi ibn Ismail ibn Agha Ali Mustafa ibn Agha al-Rumi (Van Ronkel, Catalogus der Maleische Handschriften 1909 dalam ibid).

7. Syair Ma’rifat.

Syair ini terdapat dalam naskah Oph 78, perpustakaan Leiden, yang disalin pada 28 Januari 1859 di Bukit Tinggi.

SYAIR MA’RIFAT dimulai dengan;

Pahamkan olehmu di dalam hati
Kepada guru mintalah pasti
Tulus dan yakin kedua mati
Inilah bekal tatkala mati
Apabila mufakat empat ma’na
Agama Islam baharulah sempurna
Apabila mufakat empat di sana
Mengenal dzat Tuhan yang Ghana ……….
Fakir khabarkan suatu pendapat
Tatkala mencari ilmu ma’rifat
Sepohon kayu cawangnya empat
Buahnya diambil tiada dapat
Kayunya tinggi bukan kepalang
Buahnya banyak tiada berbilang
Warnanya indah amat cemerlang
Hendak diambil dibawa pulang
Mengambil buahnya hendak mendapat
Tuntut olehmu dengan isyarat
Fi’il yang baik dengan martabat
Mintak diguru janganlah bai’at
Tuntut olehmu dengan pengguruan
Tiadalah jadi dengan tiruan
Serta tarikat mengenal Tuhan
Hakikat ma’rifat sempurna jalan
Adalah ibarat fakir yang hina


Sepohon kayu banyak ma’nanya
Jikalau pohon tiada sempurna
Cawang dn dahan tiada berguna
Jikalau sempurna pohon itu
Cawang dan dahan terhimpun di situ
Buah dan bunga di sanalah tentu
Baiklah fakir hati di situ
Baik-baik tuan kita menerima
Kepada pohonnya ialah sempurna
Daun dan buah tiada sama
Masing-masing berlainan nama
Jikalau diibarat saja kelapa
Kulit dan isi tida serupa
Janganlah kita bersalah tapa
Tetapi beda tiadalah berapa
Sebiji kelapa ibarat sana
Lafadnya empat suatu ma’na
Di situlah banyak orang terkena
Sebab pendapat kurang sempurna
Kulitnya itu ibarat syari’at
Tempurungnya itu ibarat tarikat
Isinya itu ibarat hakikat
Minyaknya itu ibarat ma’rifat
Syariat itu ibarat tubuh
Tarikat itu jalan yang teguh
Hakikat itu bersungguh-sungguh
Ma’rifat itu seperti suluh
Baik-baik I’tikad kita sempurna
Supaya I’tikad kita sempurna
Jikalau bercerai lafadh ma’na
Akhirnya tiada berguna
Jika tuan menuntut ilmu
Ketahuilah dulu keadaanmu
Man ‘arafa nafsahu kenal dirimu
Faqad ‘arafa rabbahu kenal Tuhanmu
Kenal dirimu muhadath semata
Kenal Tuhanmu qadim dzatnya
Tiada bersamaan itu keduanya
Tiada semisal seupamanya
Adapun dikata ma’na yang empat
Iman, Islam, tawhid, ma’rifat
Keempatnya itu suatu tempat
Kurang dituntut tiadalah dapat

Kemudian diterangkan keempat-keempat perkara itu. Pada akhir tulisan ini disebut judul syair ini serta nama pengarangnya

Tamatlah sudah Syair Ma’rifat
Syaikh Abdur-Rauf mengarang di Aceh
Fakir menyalin kurang nan dapat
Jangan dicela jangan diupat.

KEMBALI KE HOME SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Syech Yusuf Tajul Khalwati

Syech Yusuf Tajul Khalwati

Syech Yusuf Tajul Khalwati (lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 03 Juli 1626 – meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699 (pada umur 72 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir dari pasangan Abdullah dengan Aminah dengan nama Muhammad Yusuf. Nama ini diberikan oleh Sultan Alauddin, raja Gowa, yang juga adalah kerabat ibunda Syekh Yusuf. Nama lengkapnya setelah dewasa adalah Tuanta’ Salama’ ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni.

Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Cikoang dari Daeng Ri Tassamang, guru kerajaan Gowa. Syekh Yusuf juga berguru pada Sayyid Ba-lawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Jalaludin Al-Aydit.

Kembali dari Cikoang Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten dan Aceh. Di Banten ia bersahabat dengan Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten. Di Aceh, Syekh Yusuf berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan mendalami tarekat Qodiriyah.

Syekh Yusuf juga sempat mencari ilmu ke Yaman, berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, dan ke Damaskus untuk berguru pada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi.

Riwayat perjuangan

Ketika Kesultanan Gowa mengalami kalah perang terhadap Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.

Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilangka pada bulan September 1684.

Syekh Yusuf di Sri Lanka

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.

Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1693.

Syekh Yusuf di Afrika Selatan

Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Sumber

KEMBALI KE HOME SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Syekh Jumadil Qubro

Syekh Jumadil Qubro

Syekh Jumadil Qubro berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. Ia diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.

Petilasan

Petilasan -(maqam)-nya dilaporkan ada di beberapa tempat, yaitu di Semarang, Trowulan, dan di Desa Turgo (dekat Plawangan), Kecamatan Turi, Yogyakarta. Namun demikian, tidak diketahui di mana ia dimakamkan.

Syiar Islam

Pada awalnya, Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrohim dan Maulanai Ishaq, datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah; Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, di sebelah selatan Vietnam, yang kemudian mengislamkan Kerajaan Campa, sementara adiknya Maulana Ishaq pergi ke Aceh dan mengislamkan Samudra Pasai.

Turunan

Bila demikian, beberapa Walisongo, yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya. Sunan Bonang, dan Sunan Drajat adalah buyutnya. Sunan Kudus adalah canggahnya. Jadi bisa dikatakan bahwa para Walisongo merupakan keturunan etnis Uzbek.

Hubungan dengan Laksamana Cheng Ho

Menurut catatan di Goa Batu, Semarang tujuh dari sembilan para Walisongo adalah keluarga dan rekan Panglima Cheng Ho yang juga berasal Xinjiang / Xin Kiang, sekarang berada di wilayah Tiongkok.

Referensi :

Syekh Datuk Kahfi

Syekh Datuk Kahfi

Syekh Datuk Kahfi (dikenal juga dengan nama Syekh Idhofi atau Syekh Nurul Jati) adalah tokoh penyebar Islam di wilayah yang sekarang dikenal dengan Cirebon dan leluhur dari raja-raja Sumedang.

Beliau pertama kali menyebarkan ajaran Islam di daerah Amparan Jati. Syekh Datuk Kahfi merupakan buyut dari Pangeran Santri (Ki Gedeng Sumedang), penguasa di Kerajaan Sumedang, Larang, Jawa Barat, dan putera dari Syekh Datuk Ahmad. Ia juga merupakan keturunan dari Amir Abdullah Khan.

Silsilah

Di bawah ini merupakan silsilah Syekh Datuk Kahfi yang bersambung dengan Sayyid Alawi bin Muhammad Sohib Mirbath hingga Ahlad al-muhajir bin Isa ar-Rumi (Hadramaut, Yaman) dan seterusnya hingga Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.yang syahid terbunuh dalam pembantaian di Padang Karbala, Iraq.

Nabi Muhammad SAW, berputeri

  • Sayidah Fatimah Az-Zahra manikah dengan Imam Ali Bin Abi Thalib, berputera
  • Imam Husain as, berputera
  • Imam Ali Zainal Abidin, berputera
  • Muhammad Al-Baqir, berputera
  • Imam Ja’far Ash-Shodiq, berputera
  • Ali al-Uraidhi, berputera
  • Muhammad al-Naqib, berputera
  • Isa al-Rumi, berputera
  • Ahlad al-muhajir, berputera
  • Ubaidillah, berputera
  • Alawi, berputera
  • Muhammad, berputera
  • Alawi, berputera
  • Ali Khali’ Qosam, berputera
  • Muhammad Sahib Mirbath, berputera
  • Sayid Alwi, berputera
  • Sayid Abdul Malik, berputera
  • Sayid Amir Abdullah Khan (Azamat Khan), berputera
  • Sayid Abdul Kadir, berputera
  • Maulana Isa, berputera
  • Syekh Datuk Ahmad, berputera
  • Syekh Datuk Kahfi

Sebagai guru

Syekh Datuk Kahfi merupakan guru dari Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang (Syarifah Muda’im), yaitu putera dan puteri dari Sri Baduga Maharaja (Prabu siliwangi), raja Kerajaan Pajajaran, Jawa Barat. Syekh Datuk Kahfi wafat dan dimakamkan di Gunung Jati, bersamaan dengan makam Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Pangeran Pasarean, dan raja-raja Kesultanan Cirebon lainnya.

KEMBALI KE HOME SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Pengertian Sejarah

Sejarah, dalam Bahasa Indonesia dapat berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal usul keturunan (terutama untuk raja-raja yang memerintah).

Dalam Kamus Umum Bahasa indonesia yang ditulis oleh W.J.S. Poerwadaraminta menyebutkan bahwa sejarah mengandung tiga pengertian sebagai berikut:

  1. Sejarah berarti silsilah atau asal usul.
  2. Sejarah berarti kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
  3. Sejarah berarti ilmu, pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.

Ilmu Sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan di masa lalu. Sejarah dibagi ke dalam beberapa sub dan bagian khusus lainnya seperti kronologi, Historiografi, genealogi, paleografi, dan kliometrik. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah disebut sejarawan. Kata “sejarah” secara harafiah berasal dari kata arab (شجرة: šajarah) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri sejarah disebut تاريخ (tarikh). Kata “tarikh” dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah “waktu”. Ilmu Sejarah juga disebut sebagai Ilmu Tarikh atau Ilmu. peninggalan-peninggalan zaman dulu sudah hampir punah. Ketidak pedulian orang sekitar tentang sejarah yang mengakibatkan hilangnya peninggalan zaman dahulu.

Dalam bahasa Inggris, kata sejarah (history) berarti masa lampau umat manusia. Dalam bahasa Jerman, kata sejarah (geschicht) berarti sesuatu yang telah terjadi.

Beberapa pengertian sejarah yang dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut.

  • J.V. Bryce, Sejarah adalah catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh manusia.
  • W.H. Walsh, Sejarah itu menitikberatkan pada pencatatan yang berarti dan penting saja bagi manusia. Catatan itu meliputi tindakan-tindakan dan pengalaman-pengalaman manusia di masa lampau pada hal-hal yang penting sehingga merupakan cerita yang berarti.
  • Patrick Gardiner, Sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia.
  • Roeslan Abdulgani, Ilmu sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan.
  • Moh. Yamin, Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.
  • Ibnu Khaldun (1332-1406), Sejarah didefinisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu.
  • Moh. Ali, dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, mempertegas pengertian sejarah sebagai berikut:
  1. jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
  2. cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian, atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
  3. ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian, dan atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.

Dari beberapa uraian di atas dibuat kesimpulan sederhana bahwa sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Dalam kehidupan manusia, peristiwa sejarah merupakan suatu peristiwa yang abadi, unik, dan penting.

  1. Peristiwa yang abadi; peristiwa sejarah tidak berubah-ubah dan tetap dikenang sepanjang masa.
  2. Peristiwa yang unik; peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak pernah terulang persis sama untuk kedua kalinya.
  3. Peristiwa yang penting; peristiwa sejarah mempunyai arti dalam menentukan kehidupan orang banyak.

Link terkait :
—> Bahasa Indonesia

—> Kronologi
—> Historiografi
—> Genealogi
—> Paleografi
—> Kliometrik
—> Bahasa Arab
—> Waktu
—> Pohon

Courtesy of : -> wikipedia -> google

KEMBALI KE HOME SEJARAH ISLAM DI INDONESIA