Potensi Manusia dan Implikasinya dalam Pendidikan

A. Latar Belakang Dalam penciptaan manusia,

Allah telah melengkapinya dengan berbagai sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga ia dapat menata kehidupan di muka bumi dengan baik. Segala kelengkapan itu sebelumnya masih bersifat potensial, melalui berbagai tahapan perkembangan. Setelah terlahir ke dunia, manusia akan sangat bergantung kepada bantuan pihak lain dalam menggunakan dan mengembangkan potensinya itu. Untuk mencapai tahap tertentu dalam perkembangannya, manusia memerlukan upaya orang lain yang mampu dan rela memberikan bimbingan ke arah kedewasaan, paling tidak bantuan dari sang ibu. Upaya itu dapat disebut sebagai proses pendidikan. Karena itu dalam hal apapun manusia masih memerlukan pendidikan.
Potensi yang diberikan Allah kepada manusia tidak akan berkembang dengan sendirinya secara sempurna tanpa adanya bantuan dari pihak lain sekalipun potensi yang dimilikinya bersifat aktif dan dinamis. Potensi kemanusiaan itu akan bergerak terus menerus sesuai dengan pengaruh yang diperolehnya. Intensitas pengaruh tersebut sangat bervariasi sesuai dengan kemauan dan kesempatan yang diperolehnya yang kemudian menentukan pengalaman dan kedewasaan masing-masing.

B. Potensi Manusia dan Implikasinya dalam Pendidikan
Dalam teori kependidikan, dikenal istilah teori tabularasa (John Locke) yang memandang bahwa manusia dilahirkan laksana kertas putih bersih yang kemudian sepenuhnya tergantung pada tulisan yang mengisinya, bahwa jiwa itu akan dibentuk dan dikembangkan oleh lingkungannya. Selain itu dikenal juga dikenal teori nativisme (Arthur Schopenhauer) yang menyatakan sebaliknya.
Namun bukan berarti anak yang baru terlahir itu kosong sama sekali, karena secara fitrah, manusia adalah makhluk yang terdiri dari jasmani dan rohani. Ada dua faktor yang mempengaruhi perjalanannya manusia menuju insan kamil (manusia sempurna), yakni faktor pembawaan dan faktor lingkungan. Kedua faktor ini saling berinteraksi sejak manusia masih keadaan berupa embrio hingga akhir hidupnya. Jika dicermati berbagai teori yang ada, maka yang lebih tepat adalah teori konvergensi (William Stern) yakni perpaduan antara pembawaan dan lingkungan. Olehnya itu manusia sering disebut makhluk yang dapat dididik dan mendidik atau makhluk pendidikan.

Ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi SAW, mengintroduksikan dirinya sebagai pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Petunjuk-petunjuk tersebut bertujuan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia baik secara pribadi maupun kelompok. Petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Rasulullah tersebut, mengajar dan menyucikan manusia.
Berkaitan dengan manusia sebagai makhluk pendidikan, maka ia harus mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya, dan untuk itu ia perlu mengetahui asal kejadiannya, dari apa ia diciptakan. Dalam hal ini al-Qur’an menyimpulkan dua asal kejadian manusia. Pertama manusia dijadikan dari tanah yakni ketika Allah menciptakan Adam as. Kedua, manusia dijadikan dari nuthfah yakni ketika Allah menciptakan bani Adam. Hal ini dapat dilihat dalam firman-Nya:

الذى احسن كل شيئ خلقه وبدأ خلق الإنسان من طين . ثم جعل نسله من سلالة من ماء مهين . ثم سواه ونفخ فيه من روحه وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة قليلا ماتشكرون

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh ciptaan-Nya dan Dia menjadikannya bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur”.

(Q.S. Al-Sajadah : 7-9)

Dari ayat di atas menunjukkan bahwa pada diri manusia terdapat dua unsur yang membentuk kejadiannya, yakni jasmani dan rohani. Tubuh berasal dari material (tanah) maka ia akan kembali kepada tanah setelah mati, sedang roh berasal dari immaterial (Allah) maka ia juga akan kembali kepada Allah setelah manusia mati.

Dua unsur yang membentuk manusia tersebut, mempunyai kecendrungan untuk berkembang. Pada unsur jasmani, manusia cenderung berkembang dari kecil menjadi besar dan dari lemah menjadi kuat kemudian lemah lagi. Pada unsur rohani dari apek berfikirnya, manusia ada yang berkembang dari tidak tahu apa-apa menjadi tahu banyak hal, lalu kemudian mati. Adapula yang berkembang dari tidak tahu kemudian menjadi tahu, lalu tidak tahu lagi karena ketuaan atau pikun lalu mati, firman Allah:

والله اخرجكم من بطون امهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والأبصار والأفئد

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati ….” (Q.S. Nahl : 78)

Selanjutnya agar kedua unsur, baik jasmani maupun rohani dapat berfungsi dengan baik dan produktif, maka perlu mendapat bimbingan. Pendidikan jasmani manusia harus disempurnakan dengan pendidikan rohani. Pengembangan daya-daya jasmani seseorang tanpa dilengkapi dengan pengembangan daya rohani akan membuat hidupnya berat sebelah dan kehilangan keseimbangan. Orang yang demikian akan menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupannya di dunia, apalagi kalau perbuatan tersebut membawa kepada perbuatan-perbuatan tidak baik dan kejahatan. Ia akan membawa kerugian dan kerusakan bagi masyarakat. Selanjutnya ia akan kehilangan hidup bahagia di akhirat dan akan menghadapi hidup kesengsaraan di sana. Oleh karena itu amatlah penting supaya ruh yang ada dalam diri manusia mendapat latihan, sebagaimana badan manusia memerlukan latihan.
Dalam Islam ibadahlah yang memberikan latihan rohani yang diperlukan bagi manusia itu. Semua ibadah yang ada dalam Islam; shalat, puasa, haji dan zakat, bertujuan membuat ruh manusia senantiasa ingat kepada Tuhan, bahkan senantiasa dekat kepada-Nya. Kedekatan kepada Tuhan sebagai zat yang Mahasuci dapat meningkatkan kesucian seseorang. Rasa kesucian yang kuat akan dapat menjadi rem bagi hawa nafsu untuk melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku dalam memenuhi keinginannya.
Oleh sebab itu pula dalam pendidikan Islam, dua unsur dalam diri manusia jasmani dan ruhani yang membentuk manusia dengan segala potensinya sama-sama mendapatkan perhatian, unsur jasmani tidak lebih penting dari unsur ruhani, demikian pula sebaliknya karena kedua unsur tersebut saling mempengaruhi.

C. Penutup
Manusia diciptakan oleh Allah dengan tujuan tertentu dan jelas sebagaimana difirmankan oleh Allah kepada manusia yang belum sadar akan tujuan penciptaan-Nya:
“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami ciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami” (Q.S.23;115). “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) [QS.75:36].
Manusia diciptakan sebagai khalifah dan sekaligus sebagai “abdullah”, dengan tujuan menata dan memakmurkan kehidupan dunia sesuai dengan kemampuan pikirnya dan sekaligus sebagai hamba Allah yang senantiasa menjalankan kewajiban yang diamanahkan kepadanya.

Kepustakaan:
Al-Jamali, Muhammad Fadhil, DR. Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1995.
Nasution, Harun, Prof, Dr. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I. Jakarta: UI-Press, 1985.
Shihab,M. Quraish, Prof, Dr. Membumikan al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat. Bandung: Mizan, 1999.
Syahidin, Drs, M.Pd. Metode Pendidikan Qur’ani. Jakarta: CV. Misaka Galiza, 1999.

tuanguru.net

Iklan

Multiperan Guru sebagai pendidik

A. Latar Belakang
Multiperan guru adalah serangkaian usaha yang dilakukan dan diupayakan oleh guru sebagai pendidik. Sekaitan dengan ini, H. Mohamad Surya memandang bahwa peran guru bukan hanya di sekolah, melainkan juga di luar sekolah, misalnya di lingkungan keluarga dan di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, guru memiliki peran yang kompleks, karena  ia bukan hanya berkedudukan sebagai tenaga pendidik di sekolah, tetapi ia juga memiliki kedudukan yang sama sebagai pendidik di luar sekolah dan sejumlah peran lainnya.
B. Multiperan Guru di Sekolah
Proses belajar mengajar di sekolah merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. 
Sesuai dengan hasil telaahan penulis, ditemukan berbagai tulisan yang dikemukakan para pakar pendidikan tentang peran-peran (multiperan) yang diemban oleh guru di lingkungan sekolah yang utama adalah sebagai pendidik, pengajar dan pelatih peserta didik. Akan tetapi, sesuai adanya perkembangan baru sekitar proses belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan perannya, karena proses belajar mengajar sebagian besar ditentukan oleh peran guru di sekolah. Peran guru dalam proses belajar mengajar di sekolah selain peran utamanya adalah meliputi banyak hal, antara lain:
1. Guru Sebagai Demonstrator dan Motivator
Sebagai demonstrator, maka guru memiliki peran dalam memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis, dan apa yang disampaikannya itu betul-betul dapat dimiliki oleh peserta didik, sehingga mereka (peserta didik) akan mampu mengembangkan dalam arti meningkatkan kemampuannya pada tingkat keberhasilan yang lebih optimal. Untuk sampai ke tujuan tersebut, maka di samping guru sebagai demonstrator, ia juga berperan sebagai motivator, yakni merangsang dan atau memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi peserta didik, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar. Dalam semboyan pendidikan di Taman Siswa sudah lama dikenal dengan istilah ing ngaso sun tulodo dan ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.  Dengan semboyang ini, maka sangat nampak bahwa peranan guru sebagai motivator sangat penting dalam interaksi belajar mengajar, karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran sosial, menyangakut performance dalam arti personalisasi dan sosialisasi diri.
2. Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator, maka guru berperan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Mediator menurut Sudirman AM, berarti guru sebagai penyedia media, yakni bagaimana upaya guru meyediakan dan mengorganisasikan penggunaan media pembelajaran. Karena guru sebagai mediator, praktis bahwa ia juga berperan sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar yang sedemikian rupa, dan serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar akan berlangsung secara efektif. Hal ini, sesuai dengan paradigma “Tut Wuri Handayani”.
3. Guru sebagai Evaluator dan Pengelola Kelas
Sebagai evaluator, maka guru berperan mengadakan evaluasi, yakni penilaian terhadap hasil yang telah dicapai oleh peserta didik. Dengan penilaian, guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian, penguasaan peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan. Sekiranya, peserta didik belum sampai pada tingkat keberhasilan, maka guru dituntut lagi untuk lebih berperan sebagai pengelola kelas, dalam arti bahwa ia berperan sebagai learning manager, yakni mengelola kelas dan mengarahkan lingkungan kelas agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan untuk keberhasilan siswa secara optimal.
Multiperan guru sebagaimana diuraikan di atas, sangat penting penjabaran-nya, dan akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan berfungsi dengan baik, karena berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran.
Masih terkait dengan multiperan guru, oleh Mohamad Surya menyatakan bahwa peran guru di sekolah adalah dalam keseluruhan kegiatan pendidikan di tingkat operasional, guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional, intsruksional, dan eksperiensal. Hal yang demikian ini mengandung makna bahwa peran harus dipertahankan, bahkan sebaiknya lebih ditingkatkan. Karena itu, maka guru juga dituntut untuk memiliki komitmen yang kuat dalam upaya menfungsikan multiperannya secara utuh dan menyeluruh.
C. Multiperan Guru di Luar Sekolah
Di luar sekolah, guru juga memiliki multiperan yang signifikan. Di lingkungan keluarga misalnya, guru merupakan unsur keluarga sebagai pengelola (suami atau isteri), sebagai anak, dan sebagai pendidik dalam keluarga. Hal ini mengandung makna bahwa guru sebagai unsur keluarga harus mampu mewujudkan keluarga yang kokoh, sehingga menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara keseluruhan.
Menurut Mohamad Surya, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, guru merupakan unsur strategis sebagai anggota, agen, dan pendidik masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, guru harus menunjukkan kepribadiannya secara efektif agar menjadi teladan bagi masyarakat di sekitarnya. Sebagai agen masyarakat, guru berperan sebagai mediator antara masyarakat dan dunia pendidikan. Dalam hal ini, Moh. Uzer Usman menyatakan bahwa guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah-masalah pendidikan. Guru juga sebagai pemimpin  generasi muda, maka masa depan generasi muda terletak di tangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin mereka dalam mempersiapkan diri untuk anggota masyarakat yang dewasa.
Ringkasnya, multiperan guru yang disebutkan di atas, jika berfungsi sebagaimana mestinya, maka akan membawa lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat pada suasana edukatif, sehingga akan tercipta lingkungan yang berpendidikan, terarah dan menyeluruh, baik di sekolah maupun di luar sekolah, misalnya dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam pandangan penulis bahwa multiperan guru di luar sekolah, perlu diwujudkan secara nyata melalui satu pendekatan dan program yang dilaksanakan secara profesional, sistemik, sinergik, dan simbiotik dari semua pihak terkait.
D. Penutup
Multiperan guru sangat kompleks dan tidak hanya dimainkan di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Di sekolah, guru selain berperan sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih peserta didik, ia juga berperan sebagai demonstrator, motivator, mediator, fasilitator, evaluator, dan pengelola kelas. Sementara itu, di luar sekolah, guru berperan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sumber:
Sudirman AM. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000.
Surya, H. Mohamad. Percikan Perjuangan Guru. Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2003.
Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004
tuanguru.net

Bahan ajar Penelitian Tindakan Kelas

KONSEP DASAR DAN PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk peneli- tian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan. Terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini akan mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu; (1) untuk memperbaiki praktik; (2) untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman para praktisi terhadap praktik yang dilaksana- kannya; serta (3) untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan.

Komponen-komponen di dalam kelas yang dapat dijadikan sasaran PTK adalah sebagai berikut.

  1. Siswa, antara lain perilaku disiplin siswa, motivasi atau semangat belajar siswa, keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah dan lain-lain.
  2. Guru, antara lain penggunaan metode, strategi, pendekatan atau model pembelajaran.
  3. Materi pelajaran, misalnya urutan dalam penyajian materi, pengorganisasian materi, integrasi materi, dan lain sebagainya. 
  4. Peralatan atau sarana pendidikan, antara lain pemanfaatan laboratorium, penggunaan media pembelajaran, dan penggunaan sumber belajar.
  5. Penilaian proses dan hasil pembelajaran yang ditinjau dari tiga ranah (kognitif, afektif, psikomotorik).
  6. Lingkungan, mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif misalnya melalui penataan ruang kelas, penataan lingkungan sekolah, dan tindakan lainnya.
  7. Pengelolaan kelas, antara lain pengelompokan siswa, pengaturan jadwal pelajaran, pengaturan tempat duduk siswa, penataan ruang kelas, dan lain sebagainya.

Selengkapnya bisa anda download disini

Terima kasih telah mengunduh modul Ketrampilan Mendengarkan di Madrasah Tsanawiyah, semoga bermanfaat bagi kemajuan Bapak/Ibu Guru dan pendidikan di Indonesia.

” Tuliskan saran/kritik/komentar anda untuk perbaikan blog ini”

Pendidikan karakter bangsa

10 tanda-tanda zaman sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran,  yaitu:(Lickona. Educating for Character: How our school can teach respect & responsibility., New York Bantam Books, 1992:12-22)

1.  Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja;
2.  Membudayanya ketidak jujuran;
3.  Sikap fanatik terhadap kelompok/peer group;
4.  Rendahnya rasa hormat kepada orang tua & guru;
5.  Semakin kaburnya moral baik & buruk;
6.  Penggunaan bahasa yang memburuk;
7.Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, & seks bebas;
8.Rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu & sebagai warga  negara;
9.  Menurunnya etos kerja & adanya rasa saling curiga;
10. Kurangnya kepedulian di antara sesama.

Selengkapnya bisa anda download disini

Terima kasih telah mengunduh modul Ketrampilan Mendengarkan di Madrasah Tsanawiyah, semoga bermanfaat bagi kemajuan Bapak/Ibu Guru dan pendidikan di Indonesia.

” Tuliskan saran/kritik/komentar anda untuk perbaikan blog ini”

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, taufiq, dan hidayahNya, sehingga Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah menyelesai­kan Standar Proses untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar ini dikembangkan oleh tim adhoc selama delapan bulan pada tahun 2006. Tim adhoc ini dibentuk oleh BSNP, dan anggota tim ini terdiri dari para ahli dan praktisi bidang pendidikan. Alhamdulillah standar proses ini telah menjadi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 41 tahun 2007, tentang Standar Proses untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pengembangan standar proses ini melalui perjalanan yang cukup panjang yaitu: temu awal, pengakajian bahan da­sar, pengumpulan data lapangan, pengolahan data lapangan, penyusunan naskah akademik, per,.yusunan draf standar, re­viu draf standar dan naskah akademik, validasi draf standar dan naskah akademik, lokakarya pembahasan draf standar dan naskah akademik, pembahasan draf standar dengan Unit Utama Depdiknas, finalisasi draf standar dan naskah akademik untuk uji publik, uji publik yang melibatkan pihak-pihak terkait dalam skala yang lebih luas, finalisasi draf standar dan naskah akademik, dan terakhir rekomendasi draf final standar proses dan naskah akademik. BSNP juga membahas dalam setiap perkembangan draf standar dan naskah akademik.

BSNP menyampaikan penghargaan dan ucapan terima­kasih kepada semua anggota tim ad hoc yang telah bekerja giat dengan semangat yang tinggi serta kepada semua pihak yang telah memberi masukan pada draf standar proses dan naskah akademiknya. Semoga buku ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pendidikan di setiap ting­kat dan jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Jakarta, November 2007,

Ketua,

Prof. Djemari Mardapi, Ph.D

Selengkapnya bisa anda download disini

Terima kasih telah mengunduh modul Ketrampilan Mendengarkan di Madrasah Tsanawiyah, semoga bermanfaat bagi kemajuan Bapak/Ibu Guru dan pendidikan di Indonesia.

” Tuliskan saran/kritik/komentar anda untuk perbaikan blog ini”

Teori-Teori Yang Berorientasi Kepada Teks

I. Pendekatan-Pendekatan Struktural

Pendekatan-pendekatan struktur terhadap karya sastra merupakan tanggapan terhadap pendekatan sastra selama ini yang melihat makna suatu karya berdasarkan unsur-unsur yang berada di luar karya tersebut, seperti adanya asumsi dasar yang menyatakan bahwa suatu karya yang baik menyatakan kebenaran yang dialami manusia atau pengarangnya sendiri. Pendekatan struktural mencoba membawa peneliti sastra untuk kembali melihat kepada teks sebagai sumber kajian. Teks itu sendirilah yang akan berbicara kepada peneliti dan melalui teks makna suatu karya sastra dapat dijelaskan tanpa perlu menghubung-hubungkannya dengan unsur-unsur di luar teks itu sendiri.

Dalam sebuah esei tahun 1968, Roland Barthes meletakan pandangan strukturalis  dengan sangat kuat. Ia menyatakan bahwa penulis hanya mempunyai kekuatan mencampur tulisan-tulisan yang telah ada sebelumnya, mengumpulkan, atau menyusunnya kembali. Menurut Barthes, penulis tidak dapat menggunakan tulisan untuk mengungkapkan diri mereka tetapi hanya mempergunakan kamus bahasa dan kebudayaan yang amat luas itu yang selalu telah tertulis.  Teks adalah tempat kita masuk ke dalam penyatuan secara sprituil atau humanistik dengan pikiran dan perasaan pengarang (Selden, 1991:53).

Prinsip kerja struktural berkembang dengan pesat dan memasuki wilayah berbagai disiplin ilmu setelah Saussure mengembangkan pendekatan ini dalam kajian linguistik, sehingga ia dianggap juga sebagai pakar linguistik strukturalis. Dalam bidang  sastra, kajian struktural ini dirintis oleh kaum Formalis Rusia. Namun, perkembangan struktural di Rusia berjalan sangat lambat karena terhalang oleh pelarangan Stalin.

Pada perkembangan selanjutnya, strukturalisme meluas ke luar Rusia.. Negara yang disinggahi oleh strukturalisme, antar lain, Perancis dan Amerika. Di Perancis aliran ini masuk pada tahun 60-an. Akan tetapi, di Perancis pun strukturalisme tersandung oleh penolakan Sartre yang terpengaruh oleh Marxist. Meskipun mendapat tantangan pada awalnya, strukturalisme mengalami perkembangan di Perancis.Adabeberapa nama yang tercatat sebagai pakar yang mempopulerkan strukturalisme di Perancis. Mereka adalah Levy-Strauss, Roland Barthes, Todorov, Genette, Bremond, dan Greimas (Zaimar, 990:4).

Di tangan para pakar Perancis, Strukturalisme mengalami berbagai perubahan. Greimas dan Gennete, misalnya mempertajam teori-teori ke arah struktur naratif, sedangkan Roland Barthes mengemukakan teori tentang semiologi. Untuk kepentingan penulisan ini, akan dijelaskan secara ringkas beberapa teori tersebut yang semuanya merupakan teori yang mengacu kepada teks sebagai landasan kritiknya.

Selengkapnya bisa anda download disini

Terima kasih telah mengunduh modul Ketrampilan Mendengarkan di Madrasah Tsanawiyah, semoga bermanfaat bagi kemajuan Bapak/Ibu Guru dan pendidikan di Indonesia.

” Tuliskan saran/kritik/komentar anda untuk perbaikan blog ini”

Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Kegiatan pembelajaraan, termasuk pembelajaran bahasa merupakan usaha yang persiapan dan pelaksanaannya meliputi berbagai bagian dan tahapan. Kegiatan pembelajaran tidak semata-mata terbatas pada interaksi belajar mengajar antara siswa dan guru di ruang kelas, meskipun kegiatan ini merupakan bagian terbesar dan memerlukan waktu terbanyak. Selain kajian dan identifikasi terhadap kebutuhan yang harus dipenuhi dan tujuan yang harus dicapai, kegiatan pembelajaran menyangkut pula penilaian, di samping pemilihan bahan ajar, metode, dan teknik pembelajaran.

Pernahkah Anda mengalami kesulitan ketika melakukan penilaian terhadap proses dan hasil pembelajaran? Bila Anda menyatakan “ya” sebenarnya pengalaman Anda tidak sendiri.  Banyak permasalahan-permasalahan dalam penilaian pembelajaran yang dihadapi guru, baik yang ada di SD sebagai guru kelas maupun di SMP sebagai guru mata pelajaran mengalami kesulitan yang sama.  Bagaimana upaya untuk mengatasi masalah yang Anda hadapi ini?

Salah satu tugas guru sebagai agen pembelajaran sebagaimana yang ditetapkan dalam PP 19/2005 adalah tugas melakukan penilaian pembelajaran selain tugas merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Penilaian pembelajaran merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran.

Terdapat bermacam-macam teknik dan alat penilaian dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa Indonesia. Teknik dan alat penilaian yang diterapkan hendaknya disesuaikan dengan tujuan dan sasaran penilaian, situasi, dan kondisi lingkungan siswa, serta kompetensi dasar yang harus dikuasai  seperti yang telah tercantum dalam kurikulum. Hal-hal yang berkaitan dengan penilaian seperti tersebut hendaknya lebih dipahami lebih terperinci sehingga pemahaman terhadap penilaian dan pelaksanaannya akan lebih baik.

Selain itu, dalam kegiatan penilaian hendaknya disiapkan soal atau alat penilaian yang tepat. Alat penilaian yang dipersiapkan secara baik, hasilnya di antaranya dapat memberikan informasi yang setepat-tepatnya. Misalnya, dapat memprediksi atau menentukan tingkat kemampuan setiap siswa dalam memahami materi pembelajaran yang telah diberikan dan dapat  mencerminkan penguasaan kompentensi dasarnya. Selain  harus dipersiapkan secara baik, alat penilaian juga perlu dipersiapkan secara teratur. Alat penilaian yang dipersiapkan secara teratur menunjukkan bahwa pelaksanaan program belajar  dipersiapkan atau dipantau secara teratur. Oleh karena itu, agar hasil penilaian dapat memberikan informasi yang setepat-tepatnya, maka mutu soal atau alat penilaian harus dapat dipertanggungjawabkan dengan cara mempersiapkannya secara baik dan teratur.

B.       Tujuan

Modul ini membahas tentang penilaian, khususnya penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan dapat memahami konsep dan proses penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yang secara khusus dapat dirinci dalam bentuk-bentuk perilaku berikut ini.

  1. Menjelaskan  standar penilaian pendidikan
  2. Mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran bahasa Indonesia.
  3. Menganalisis dan menginterpretasi hasil penilaian

C.       Ruang Lingkup

Ruang lingkup pembahasan topik penilaian pembelajaran meliputi subtopik (1) Standar Penilaian Pendidikan dan (2) Pengembangan Instrumen Penilaian Pembelajaran.

Pada subtopik Standar Penilaian Pendidikan, Anda akan diajak untuk mengkaji, mendiskusikan, dan/atau memberi tanggapan terhadap penjelasan tentang pengertian standar penilaian pendidikan, rasional adanya standar penilaian, dan prinsip-prinsip penilaian pendidikan sesuai dengan Permendiknas Nomor 20 tahun 2007. Pada subtopik Pengembangan Instrumen Penilaian Pembelajaran, Anda akan diajak untuk mengkaji dan memilih serta menerapkan jenis instrumen penilaian pembelajaran yang cocok dengan target hasil belajar dan kompetensi dasar yang dipilih oleh guru. Sedangkan, pada subtopic analisis dan interprtasi hasil penilaian, Anda akan dilatih menganalisis intrumen penilaian baik secara kualitatif maupun kuantitatif..

Selengkapnya bisa anda download disini

Terima kasih telah mengunduh modul Ketrampilan Mendengarkan di Madrasah Tsanawiyah, semoga bermanfaat bagi kemajuan Bapak/Ibu Guru dan pendidikan di Indonesia.

” Tuliskan saran/kritik/komentar anda untuk perbaikan blog ini”