Tokoh Pendiri

TOKOH PENDIRI

Karena kurangnya bukti secara tertulis, sehingga tokoh-tokoh yang terlibat pada saat pendirian MTs. Falakhiyah hanyalah berdasarkan penuturan secara lisan. Adapun tokoh-tokoh tersebut, diantaranya :

  1. Syech KH. Choeruddin
  2. KH. Abdul Hamid
  3. KH. Masran Nur Aziz
  4. KH. Sa’dullah
  5. KH. M. Maliki
  6. H. Rodli As’ad
  7. H. Nur Hasyim (Alm)
  8. K. Nur ‘Amin
  9. K. Mustajab
  10. K. Abd. Rohman
  11. H. Judi
  12. H. Ibrahim
  13. H. Choiri
  14. Para Tokoh masyarakat dan masayich Desa Jampet dan sekitarnya.

 

PENGAKUAN DAN PENGESAHAN DARI INSTANSI

Secara kronologis pengakuan – pengakuan dan persetujuan yang telah diberikan oleh beberapa instansi terkait sehubungan dengan pendirian dan keberadaan MTs. Falakhiyah, antara lain berasal dari :

  1. Pimpinan Wilayah LP. Ma’arif NU Jawa Timur dengan nomor piagam : B-3007184, tertanggal 11 Romadlon 1406 H / 20 Mei 1986, perihal rekomendasi dinyatakan terdaftar sebagai anggota pada Lembaga Pendidikan Ma’arif Wilayah Jawa Timur.
  2. Kepala Kantor Wilayah (kakanwil) Departemen Agama Propinsi Jawa Timur dengan nomor piagam W.m.06.02/1322/B.Ket./1988, tertanggal 12 Oktober 1988, perihal rekomendasi TERDAFTAR dan diberikan hak menurut hukum untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran.
  3. Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Jawa Timur dengan nonor piagam jenjang akreditasi Wm.06.03/PP.03.2/000263/Skp/1995, tertanggal 20 Januari 1995, perihal rekomendasi jenjang akreditasi DIAKUI dengan Nomor Statistik Madrasah 212352216032.
  4. Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Timur dengan nomor piagam B-03080008, tertanggal 08 Dzulhijjah 1424 H/30 Januari 2004 M, perihal TERDAFTAR sebagai anggota pada LP. Ma’arif NU Wilayah Jawa Timur dan berhak mendapatkan bantuan, bimbingan, dan pembinaan dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU sesuai dengan tatakerja dan ketentuan lembaga yang berlaku.
  5. Kepala Departemen Agama Kantor Wilayah Propinsi Jawa Timur dengan nomor piagam C/Kw.13.4/MTs/647/2005, tertanggal 24 Agustus 2005, perihal pemberian piagam akreditasi dengan peringkat C (cukup).
  6. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, tertanggal 1 September 2008, perihal pemberian sertifikat Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dengan NPSN : 20504367.
  7. Kepala Departemen Agama Kabupaten Bojonegoro  dengan nomor piagam Kd.13.22/1/PP.01.1/672.485/2009, tertanggal 17 Maret 2009, perihal pemberian Nomor statistik baru dengan NSM : 121235220029.
  8. Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Timur dengan nomor piagam B-03080008, tertanggal 18 Robiutsani 1430 H/14 april 2009 M, perihal TERDAFTAR sebagai anggota pada LP. Ma’arif NU Wilayah Jawa Timur dan berhak mendapatkan bantuan, bimbingan, dan pembinaan dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU sesuai dengan tatakerja dan ketentuan lembaga yang berlaku.
  9. Kepala  Departemen Pendidikan nasional RI, Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), tertanggal 21 Oktober 2009 dengan peringkat B (baik).

Iklan

Multiperan Guru sebagai pendidik

A. Latar Belakang
Multiperan guru adalah serangkaian usaha yang dilakukan dan diupayakan oleh guru sebagai pendidik. Sekaitan dengan ini, H. Mohamad Surya memandang bahwa peran guru bukan hanya di sekolah, melainkan juga di luar sekolah, misalnya di lingkungan keluarga dan di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, guru memiliki peran yang kompleks, karena  ia bukan hanya berkedudukan sebagai tenaga pendidik di sekolah, tetapi ia juga memiliki kedudukan yang sama sebagai pendidik di luar sekolah dan sejumlah peran lainnya.
B. Multiperan Guru di Sekolah
Proses belajar mengajar di sekolah merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. 
Sesuai dengan hasil telaahan penulis, ditemukan berbagai tulisan yang dikemukakan para pakar pendidikan tentang peran-peran (multiperan) yang diemban oleh guru di lingkungan sekolah yang utama adalah sebagai pendidik, pengajar dan pelatih peserta didik. Akan tetapi, sesuai adanya perkembangan baru sekitar proses belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan perannya, karena proses belajar mengajar sebagian besar ditentukan oleh peran guru di sekolah. Peran guru dalam proses belajar mengajar di sekolah selain peran utamanya adalah meliputi banyak hal, antara lain:
1. Guru Sebagai Demonstrator dan Motivator
Sebagai demonstrator, maka guru memiliki peran dalam memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis, dan apa yang disampaikannya itu betul-betul dapat dimiliki oleh peserta didik, sehingga mereka (peserta didik) akan mampu mengembangkan dalam arti meningkatkan kemampuannya pada tingkat keberhasilan yang lebih optimal. Untuk sampai ke tujuan tersebut, maka di samping guru sebagai demonstrator, ia juga berperan sebagai motivator, yakni merangsang dan atau memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi peserta didik, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar. Dalam semboyan pendidikan di Taman Siswa sudah lama dikenal dengan istilah ing ngaso sun tulodo dan ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.  Dengan semboyang ini, maka sangat nampak bahwa peranan guru sebagai motivator sangat penting dalam interaksi belajar mengajar, karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran sosial, menyangakut performance dalam arti personalisasi dan sosialisasi diri.
2. Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator, maka guru berperan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Mediator menurut Sudirman AM, berarti guru sebagai penyedia media, yakni bagaimana upaya guru meyediakan dan mengorganisasikan penggunaan media pembelajaran. Karena guru sebagai mediator, praktis bahwa ia juga berperan sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar yang sedemikian rupa, dan serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar akan berlangsung secara efektif. Hal ini, sesuai dengan paradigma “Tut Wuri Handayani”.
3. Guru sebagai Evaluator dan Pengelola Kelas
Sebagai evaluator, maka guru berperan mengadakan evaluasi, yakni penilaian terhadap hasil yang telah dicapai oleh peserta didik. Dengan penilaian, guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian, penguasaan peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan. Sekiranya, peserta didik belum sampai pada tingkat keberhasilan, maka guru dituntut lagi untuk lebih berperan sebagai pengelola kelas, dalam arti bahwa ia berperan sebagai learning manager, yakni mengelola kelas dan mengarahkan lingkungan kelas agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan untuk keberhasilan siswa secara optimal.
Multiperan guru sebagaimana diuraikan di atas, sangat penting penjabaran-nya, dan akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan berfungsi dengan baik, karena berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran.
Masih terkait dengan multiperan guru, oleh Mohamad Surya menyatakan bahwa peran guru di sekolah adalah dalam keseluruhan kegiatan pendidikan di tingkat operasional, guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional, intsruksional, dan eksperiensal. Hal yang demikian ini mengandung makna bahwa peran harus dipertahankan, bahkan sebaiknya lebih ditingkatkan. Karena itu, maka guru juga dituntut untuk memiliki komitmen yang kuat dalam upaya menfungsikan multiperannya secara utuh dan menyeluruh.
C. Multiperan Guru di Luar Sekolah
Di luar sekolah, guru juga memiliki multiperan yang signifikan. Di lingkungan keluarga misalnya, guru merupakan unsur keluarga sebagai pengelola (suami atau isteri), sebagai anak, dan sebagai pendidik dalam keluarga. Hal ini mengandung makna bahwa guru sebagai unsur keluarga harus mampu mewujudkan keluarga yang kokoh, sehingga menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara keseluruhan.
Menurut Mohamad Surya, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, guru merupakan unsur strategis sebagai anggota, agen, dan pendidik masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, guru harus menunjukkan kepribadiannya secara efektif agar menjadi teladan bagi masyarakat di sekitarnya. Sebagai agen masyarakat, guru berperan sebagai mediator antara masyarakat dan dunia pendidikan. Dalam hal ini, Moh. Uzer Usman menyatakan bahwa guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah-masalah pendidikan. Guru juga sebagai pemimpin  generasi muda, maka masa depan generasi muda terletak di tangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin mereka dalam mempersiapkan diri untuk anggota masyarakat yang dewasa.
Ringkasnya, multiperan guru yang disebutkan di atas, jika berfungsi sebagaimana mestinya, maka akan membawa lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat pada suasana edukatif, sehingga akan tercipta lingkungan yang berpendidikan, terarah dan menyeluruh, baik di sekolah maupun di luar sekolah, misalnya dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam pandangan penulis bahwa multiperan guru di luar sekolah, perlu diwujudkan secara nyata melalui satu pendekatan dan program yang dilaksanakan secara profesional, sistemik, sinergik, dan simbiotik dari semua pihak terkait.
D. Penutup
Multiperan guru sangat kompleks dan tidak hanya dimainkan di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Di sekolah, guru selain berperan sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih peserta didik, ia juga berperan sebagai demonstrator, motivator, mediator, fasilitator, evaluator, dan pengelola kelas. Sementara itu, di luar sekolah, guru berperan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sumber:
Sudirman AM. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000.
Surya, H. Mohamad. Percikan Perjuangan Guru. Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2003.
Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004
tuanguru.net

Pendidikan Seumur Hidup dalam Pandangan Islam

                                                                                            A. Latar Belakang
Undang-undang Sisdiknas Tahun 2003 memberi batasan bahwa pendidikan yang diselenggarakan di sekolah merupakan jalur formal, sedangkan pendidikan yang diselenggarakan di masyarakat merupakan jalur nonformal, dan jalur informal adalah pendidikan yang diselenggarakan dalam keluarga. Pasal 10 ayat 1 menjelaskan bahwa penerapan pendidikan dapat dilaksanakan di sekolah dan di luar sekolah. Dalam kaitannya dengan pendidikan seumur hidup, Fuad Ihsan menyatakan bahwa dalam konsep pendidikan seumur hidup, pendidikan sekolah, pendidikan luar sekolah yang dilembagakan dan yang tidak dilembagakan saling mengisi dan saling memperkuat.
Pendidikan luar sekolah yang tidak dilembagakan adalah proses pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, umumnya tidak teratur dan tidak sistematis, sejak seseorang lahir sampai meninggal, seperti di dalam lingkungan keluarga. Pendidikan keluarga sangat besar pengaruhnya, karena di sanalah anak dipelihara, dibesarkan, dan menerima sejumlah nilai serta norma yang ditanamkan kepadanya. Motivasi belajar anak juga didapatkan dalam lingkungan keluarga. Terkait dengan ini, Wlodkowski dan Jaynes menyatakan bahwa “para orang tua hendaknya tampil sebagai faktor pemberi pengaruh utama bagi motivasi belajar anak”.
Sejalan dengan kepentingan dan masa depan anak-anak, maka orang tua hendaklah menyekolahkan mereka dan karena pendidikan di sekolah termasuk rangkaian pendidikan seumur hidup. Sistem pendidikan di sekolah yang teratur, sistematis, dan berjenjang sangat strategis untuk membina peserta didik dalam menghadapi masa-masa selanjutnya, sampai peserta didik tersebut berusia lanjut.
Pendidikan seumur hidup bagi anak, merupakan aspek perlu memperoleh perhatian utama. Proses pendidikan hendaknya menekankan pada strategi dan metodologi yang dapat menanmkan motivasi belajar dan kepribadian belajar yang kuat. Program kegiatan disusun mulai peningkatan kecakapan baca tulis, keterampilan dasar yang mempertinggi daya pikir anak, sehingga memungkinkan anak terbiasa untuk belajar, berpikir kritis dan mempunyai pandangan kehidupan yang dicita-citakan pada masa yang akan datang. Sedangkan pendidikan seumur hidup bagi orang dewasa adalah dalam rangka pemenuhanself interest yang merupakan tuntunan hidup mereka sepanjang masa. Di antara self interest tersebut adalah latihan keterampilan yang dapat membantu menghadapi situasi dan persoalan-persoalan penting yang merupakan kunci keberhasilan.
B. Pendidikan Seumur Hidup dalam Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, pendidikan seumur hidup didasarkan pada fase-fase perkembangan manusia itu sendiri. Artinya, proses pendidikan itu disesuaikan dengan pola dan tempo, serta irama perkembangan yang dialami oleh seseorang sampai akhir hayatnya, yakni:
1. Masa al-Jauin (usia dalam kandungan)
Masa al-jauin, tingkat anak yang berada dalam kandungan dan adanya kehidupan setelah adanya ruh dari Allah swt. Pada usia 4 bulan, pendidikan dapat diterapkan dengan istilah “pranatal” atau juga dapat dilakukan sebelum ada itu menjadi janin yang disebut dengan pendidikan “prakonsepsi”. Karena itu, seorang ibu ketika mengandung anaknya, hendaklah mempersiapkan kondisi fisik maupun psikisnya, sebab sangat berpengaruh terhadap proses kelahiran dan perkembangan anak kelak.
2. Masa bayi (usia 0-2 tahun)
Pada tahap ini, orang belum memiliki kesadaran dan daya intelektual, ia hanya mampu menerima rangsangan yang bersifat biologis dan psikologis melalui air susu ibunya. Karenanya, dalam fase ini belum dapat diterapkan interaksi edukatif secara langsung. Proses edukasi dapat dilakukan menurut Islam adalah membacakan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri ketika baru lahir, memberi nama yang baik ketika diaqiqah. Dengan demikian, di hari pertama dan minggu pertama kelahirannya, sudah diperkenalkan kalimat tauhid, selanjutnya diberi nama yang baik sesuai tuntunan agama.
3. Masa kanak-kanak  (usia 2-12 tahun)
Pada fase ini, seseorang mulai memiliki potensi-potensi biologis, paedagogis. Oleh karena itu, mulai diperlukan pembinaan, pelatihan, bimbingan, pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan bakat dan minat atau fitrahnya. Ketika telah mencapai usia enam tahun hendaklah dipisahkan tempat tidurnya dan diperintahkan untuk shalat ketika berumur tujuh tahun. Proses pembinaan dan pelatihan lebih efektif lagi bila dalam usia tujuh tahun disekolahkan pada Sekolah Dasar. Hal tersebut karena pada fase ini, seseorang mulai aktif dan mampu memfungsikan potensi-potensi indranya walaupun masih pada taraf pemula.
4. Masa puber (usia 12-20 tahun)
Pada tahap ini, seseorang mengalami perubahan biologis yang drastis, postur tubuh hampir menyamai orang dewasa walaupun taraf kematangan jiwanya belum mengimbanginya. Pada tahap ini, seseorang mengalami masa transisi, masa yang menuntut seseorang untuk hidup dalam kebimbangan, antara norma masyarakat yang telah melembaga agaknya tidak cocok dengan pergaulan hidupnya sehari-hari, sehingga ia ingin melepaskan diri dari belenggu norma dan susila masyarakat untuk mencari jati dirinya, ia ingin hidup sebagai orang dewasa, diakui, dan dihargai, tetapi aktivitas yang dilakukan masih bersifat kekanak-kanakan. Seringkali orang tua masih membatasi kehidupannya agar nantinya dapat mewarisi dan mengembangkan usaha yang dicapai orang tuanya. Proses edukasi fase puber ini, hendaknya dididik mental dan jasmaninya misalnya mendidik dalam bidang olahraga dan  memberikan suatu model, mode dan modus yang Islami, sehingga ia mampu melewati masa remaja di tengah-tengah masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
5. Masa kematangan (usia 20,30)
Pada tahap ini, seseorang telah beranjak dalam proses kedewasaan, mereka sudah mempunyai kematangan dalam bertindak, bersikap, dan mengambil keputusan untuk menentukan masa depannya sendiri. Proses edukasi yang dapat dilakukan adalah memberi pertimbangan dalam menentukan masa depannya agar tidak melakukan langkah-langkah yang keliru.
6. Masa kedewasaan (usia 30- …sampai akhir hayat)
Pada tahap ini, seseorang telah berasimilasi dalam dunia kedewasaan dan telah menemukan jati dirinya, sehingga tindakannya penuh dengan kebijaksanaan yang mampu memberi naungan dan perlindungan bagi orang lain. Proses edukasi dapat dilakukan dengan cara mengingatkan agar mereka lebih memperbanyak amal shalih, serta mengingatkan bahwa harta yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, negara dan masyarakat.
C. Penutup
Pendidikan seumur hidup (life long education) atau dalam istilah arab diekanal dengan sebuta Atlubul Ilma minal mahdi ilallahdi adalah proses pendidikan yang dilakukan oleh setiap orang secara berkesinambungan, atau secara terus menerus sampai akhir hayatnya. Konsep tentang pendidikan seumur hidup terdiri dari konsep belajar seumur hidup; konsep pelajar seumur hidup; dan kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup.
Pendidikan seumur hidup berlangsung melalui pendidikan sekolah, dan pendidikan luar sekolah yang dilembagakan dan yang tidak dilembagakan. Dalam perspektif Islam, aplikasi pendidikan seumur hidup tersebut berlangsung berdasarkan fase-fase perkembangan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, proses pendidikan itu sesuai dengan pola dan irama perkembangan seseorang dimulai sejak masa kecilnya hingga akhir hayatnya.
Kepustakaan:
Ihsan, H. Fuad. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 1997.
Tim Perumus Fokus Media. Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia, 2003.
Wlodkowski J, Raymond dan Judith H. Jaynes. Eager to Learn, diterjemahkan oleh M. Chairul Annam dengan judul Motivasi Belajar. Jakarta: Cerdas Pustaka, 2004. 
Yusuf, Sulaiman. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara, 1999.
Zainuddin et. al., Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
tuanguru.net

Bahan ajar Penelitian Tindakan Kelas

KONSEP DASAR DAN PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk peneli- tian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan. Terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini akan mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu; (1) untuk memperbaiki praktik; (2) untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman para praktisi terhadap praktik yang dilaksana- kannya; serta (3) untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan.

Komponen-komponen di dalam kelas yang dapat dijadikan sasaran PTK adalah sebagai berikut.

  1. Siswa, antara lain perilaku disiplin siswa, motivasi atau semangat belajar siswa, keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah dan lain-lain.
  2. Guru, antara lain penggunaan metode, strategi, pendekatan atau model pembelajaran.
  3. Materi pelajaran, misalnya urutan dalam penyajian materi, pengorganisasian materi, integrasi materi, dan lain sebagainya. 
  4. Peralatan atau sarana pendidikan, antara lain pemanfaatan laboratorium, penggunaan media pembelajaran, dan penggunaan sumber belajar.
  5. Penilaian proses dan hasil pembelajaran yang ditinjau dari tiga ranah (kognitif, afektif, psikomotorik).
  6. Lingkungan, mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif misalnya melalui penataan ruang kelas, penataan lingkungan sekolah, dan tindakan lainnya.
  7. Pengelolaan kelas, antara lain pengelompokan siswa, pengaturan jadwal pelajaran, pengaturan tempat duduk siswa, penataan ruang kelas, dan lain sebagainya.

Selengkapnya bisa anda download disini

Terima kasih telah mengunduh modul Ketrampilan Mendengarkan di Madrasah Tsanawiyah, semoga bermanfaat bagi kemajuan Bapak/Ibu Guru dan pendidikan di Indonesia.

” Tuliskan saran/kritik/komentar anda untuk perbaikan blog ini”

Pendidikan karakter bangsa

10 tanda-tanda zaman sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran,  yaitu:(Lickona. Educating for Character: How our school can teach respect & responsibility., New York Bantam Books, 1992:12-22)

1.  Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja;
2.  Membudayanya ketidak jujuran;
3.  Sikap fanatik terhadap kelompok/peer group;
4.  Rendahnya rasa hormat kepada orang tua & guru;
5.  Semakin kaburnya moral baik & buruk;
6.  Penggunaan bahasa yang memburuk;
7.Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, & seks bebas;
8.Rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu & sebagai warga  negara;
9.  Menurunnya etos kerja & adanya rasa saling curiga;
10. Kurangnya kepedulian di antara sesama.

Selengkapnya bisa anda download disini

Terima kasih telah mengunduh modul Ketrampilan Mendengarkan di Madrasah Tsanawiyah, semoga bermanfaat bagi kemajuan Bapak/Ibu Guru dan pendidikan di Indonesia.

” Tuliskan saran/kritik/komentar anda untuk perbaikan blog ini”

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, taufiq, dan hidayahNya, sehingga Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah menyelesai­kan Standar Proses untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar ini dikembangkan oleh tim adhoc selama delapan bulan pada tahun 2006. Tim adhoc ini dibentuk oleh BSNP, dan anggota tim ini terdiri dari para ahli dan praktisi bidang pendidikan. Alhamdulillah standar proses ini telah menjadi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 41 tahun 2007, tentang Standar Proses untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pengembangan standar proses ini melalui perjalanan yang cukup panjang yaitu: temu awal, pengakajian bahan da­sar, pengumpulan data lapangan, pengolahan data lapangan, penyusunan naskah akademik, per,.yusunan draf standar, re­viu draf standar dan naskah akademik, validasi draf standar dan naskah akademik, lokakarya pembahasan draf standar dan naskah akademik, pembahasan draf standar dengan Unit Utama Depdiknas, finalisasi draf standar dan naskah akademik untuk uji publik, uji publik yang melibatkan pihak-pihak terkait dalam skala yang lebih luas, finalisasi draf standar dan naskah akademik, dan terakhir rekomendasi draf final standar proses dan naskah akademik. BSNP juga membahas dalam setiap perkembangan draf standar dan naskah akademik.

BSNP menyampaikan penghargaan dan ucapan terima­kasih kepada semua anggota tim ad hoc yang telah bekerja giat dengan semangat yang tinggi serta kepada semua pihak yang telah memberi masukan pada draf standar proses dan naskah akademiknya. Semoga buku ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pendidikan di setiap ting­kat dan jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Jakarta, November 2007,

Ketua,

Prof. Djemari Mardapi, Ph.D

Selengkapnya bisa anda download disini

Terima kasih telah mengunduh modul Ketrampilan Mendengarkan di Madrasah Tsanawiyah, semoga bermanfaat bagi kemajuan Bapak/Ibu Guru dan pendidikan di Indonesia.

” Tuliskan saran/kritik/komentar anda untuk perbaikan blog ini”

Teori-Teori Yang Berorientasi Kepada Teks

I. Pendekatan-Pendekatan Struktural

Pendekatan-pendekatan struktur terhadap karya sastra merupakan tanggapan terhadap pendekatan sastra selama ini yang melihat makna suatu karya berdasarkan unsur-unsur yang berada di luar karya tersebut, seperti adanya asumsi dasar yang menyatakan bahwa suatu karya yang baik menyatakan kebenaran yang dialami manusia atau pengarangnya sendiri. Pendekatan struktural mencoba membawa peneliti sastra untuk kembali melihat kepada teks sebagai sumber kajian. Teks itu sendirilah yang akan berbicara kepada peneliti dan melalui teks makna suatu karya sastra dapat dijelaskan tanpa perlu menghubung-hubungkannya dengan unsur-unsur di luar teks itu sendiri.

Dalam sebuah esei tahun 1968, Roland Barthes meletakan pandangan strukturalis  dengan sangat kuat. Ia menyatakan bahwa penulis hanya mempunyai kekuatan mencampur tulisan-tulisan yang telah ada sebelumnya, mengumpulkan, atau menyusunnya kembali. Menurut Barthes, penulis tidak dapat menggunakan tulisan untuk mengungkapkan diri mereka tetapi hanya mempergunakan kamus bahasa dan kebudayaan yang amat luas itu yang selalu telah tertulis.  Teks adalah tempat kita masuk ke dalam penyatuan secara sprituil atau humanistik dengan pikiran dan perasaan pengarang (Selden, 1991:53).

Prinsip kerja struktural berkembang dengan pesat dan memasuki wilayah berbagai disiplin ilmu setelah Saussure mengembangkan pendekatan ini dalam kajian linguistik, sehingga ia dianggap juga sebagai pakar linguistik strukturalis. Dalam bidang  sastra, kajian struktural ini dirintis oleh kaum Formalis Rusia. Namun, perkembangan struktural di Rusia berjalan sangat lambat karena terhalang oleh pelarangan Stalin.

Pada perkembangan selanjutnya, strukturalisme meluas ke luar Rusia.. Negara yang disinggahi oleh strukturalisme, antar lain, Perancis dan Amerika. Di Perancis aliran ini masuk pada tahun 60-an. Akan tetapi, di Perancis pun strukturalisme tersandung oleh penolakan Sartre yang terpengaruh oleh Marxist. Meskipun mendapat tantangan pada awalnya, strukturalisme mengalami perkembangan di Perancis.Adabeberapa nama yang tercatat sebagai pakar yang mempopulerkan strukturalisme di Perancis. Mereka adalah Levy-Strauss, Roland Barthes, Todorov, Genette, Bremond, dan Greimas (Zaimar, 990:4).

Di tangan para pakar Perancis, Strukturalisme mengalami berbagai perubahan. Greimas dan Gennete, misalnya mempertajam teori-teori ke arah struktur naratif, sedangkan Roland Barthes mengemukakan teori tentang semiologi. Untuk kepentingan penulisan ini, akan dijelaskan secara ringkas beberapa teori tersebut yang semuanya merupakan teori yang mengacu kepada teks sebagai landasan kritiknya.

Selengkapnya bisa anda download disini

Terima kasih telah mengunduh modul Ketrampilan Mendengarkan di Madrasah Tsanawiyah, semoga bermanfaat bagi kemajuan Bapak/Ibu Guru dan pendidikan di Indonesia.

” Tuliskan saran/kritik/komentar anda untuk perbaikan blog ini”