Kesiswaan

Kepala Urusan Bidang Kesiswaan di Madrasah Tsanawiyah Falakhiyah memberikan bimbingan, layanan dukungan, dan berbagai program dan kegiatan yang dirancang untuk memaksimalkan belajar siswa. Karena kita tahu bahwa siswa terus-menerus belajar di dalam kelas, program kami melengkapi kegiatan akademik dan mempromosikan pengembangan potensi siswa.

Fokus Kaur. Kesiswaan adalah pada individu siswa dan pendidikan mereka. Kami berusaha untuk memberikan pengalaman kegiatan yang bersifatekstrakurikuler dan pembelajaran yang bersifat transformatif dengan berkolaborasi dan bermitra dengan stakeholder di madrasah.

Kaur. Kesiswaan MTs. Falakhiyah yang didedikasikan untuk melayani siswa di madrasah, yang diharapkan mampu mengarahkan kepribadian siswa pada profesionalitas yang peduli dan berdedikasi serta membantu siswa dalam mengembangkan potensi  mereka secara penuh. Mulai dari keseharian dan pembelajaran yang akhirnya mampu untuk terjun ke masyarakat nantinya. program kami menyediakan beberapa opsi diantaranyakepemimpinanOSIS dan ekstrakurikuler, dll.

Blog ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dan informasi kepada siswa, wali murid dan khalayak umum tentang semua kegiatan dan aktifitas yang berada di MTs. Falakhiyah Jampet di bawah bendera KESISWAAN.  Harapan kami adalah bagi Anda untuk mengenali Urusan Kesiswaan dan potensi yang dimiliki siswa dalam kegiatan pembelajaran dan bagaimana cara siswa  berekspresi.

Sistem pendidikan di Indonesia mengenal dua istilah yaitu Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler memfokuskan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas yang dilakukan dengan cara tatap muka dengan peserta didik (siswa), dengan berbagai macam metode yang bisa digunakan oleh guru yang bertujuan agar peserta didik mampu menerima dan memahami materi pelajaran yang disampaikan. Strateginya adalah bagaimana proses pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Edukatif, Menyenangkan dan Islami (PAIKEMI)

Sedangkan ekstrakurikuler berorientasi pada pendekatan Discovery Oriented atau Pendekatan yang berorientasi pengembangan potensi pada inovasi-inovasi yang di peroleh dilapangan yang bertujuan meningkatkan ketrampilan dan kecakapan hidup (life skill). Dengan kata lain Pendidikan Pembinaan Kesiswaan mengarahkan dan mengembangkan potensi untuk berwawasan masa depan (Looking forward), memiliki Keteraturan pribadi (self regulation), dan memiliki rasa kepedulian sosial yang baik (Holy social sense) para siswa.      

Masa depan yang lebih baik tidak begitu saja datang dari langit tetapi di capai dengan usaha yang serius. Dalam memandang masa depan ada peerencanaan yang matang (planing) dan dapat dipehitungkan (calculabilty). Siswa dapat memandang masa depan apa yang diinginkan dan masa depan yang bagaimana yang akan dihadapinya.

Dengan adanya bimbingan dari Kaur Kesisiwaan diharapkan terbentuk manusia yang terbiasa dalam bekerja keras, ulet, mandiri dan berprestasi dalam berkompetisi saling berlomba untuk mencapai yang terbaik ( fastabiqul Khairat). Pada akhirnya diharapkan terbentuk sikap hidup  dalam berbuat atau bekerja,  prinsip dalam keyakinan hidup memberikan motivasi yang kuat pada para siswa untuk memiliki kebiasaan-kebiasaan hidup yang matang yang pada akhirnya dapat membuat siswa mandiri dan meningkatkan kualitas diri dan kualitas hidupnya.

Penanaman sifat dan sikap peduli terhadap orang-orang disekitarnya diharapkan mampu memperbaiki kualitas hidupnya. Mau membantu orang-orang yang membutuhkannya dan tidak menjadi manusia individualis. Dengan hal ini siswa diarahkan memahami dirinya serta memiliki empati sad n simpati. Memiliki kemampuan untuk merasakan apa yang dialami oleh orang lain dan menangkap sudut pandang orang lain tanpa kehilangan akal sehat. 

       Agar pendidikan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki dengan baik diperlukan perhatian yang memadai dan proporsional. pada pendidikan yang bersifat ektrakulikuler merupakan solusi dan penyempurnaan penyampaian tujuan yang kurang atau tidak dapat dicapai oleh kegiatan intrakulikuler. Pemberian perhatian dan proposi yang seimbang diharapkan dapat mengembangkan potensi yang di miliki para siswa secara maksimal. (isna.doc)*

Multiperan Guru sebagai pendidik

A. Latar Belakang
Multiperan guru adalah serangkaian usaha yang dilakukan dan diupayakan oleh guru sebagai pendidik. Sekaitan dengan ini, H. Mohamad Surya memandang bahwa peran guru bukan hanya di sekolah, melainkan juga di luar sekolah, misalnya di lingkungan keluarga dan di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, guru memiliki peran yang kompleks, karena  ia bukan hanya berkedudukan sebagai tenaga pendidik di sekolah, tetapi ia juga memiliki kedudukan yang sama sebagai pendidik di luar sekolah dan sejumlah peran lainnya.
B. Multiperan Guru di Sekolah
Proses belajar mengajar di sekolah merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. 
Sesuai dengan hasil telaahan penulis, ditemukan berbagai tulisan yang dikemukakan para pakar pendidikan tentang peran-peran (multiperan) yang diemban oleh guru di lingkungan sekolah yang utama adalah sebagai pendidik, pengajar dan pelatih peserta didik. Akan tetapi, sesuai adanya perkembangan baru sekitar proses belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan perannya, karena proses belajar mengajar sebagian besar ditentukan oleh peran guru di sekolah. Peran guru dalam proses belajar mengajar di sekolah selain peran utamanya adalah meliputi banyak hal, antara lain:
1. Guru Sebagai Demonstrator dan Motivator
Sebagai demonstrator, maka guru memiliki peran dalam memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis, dan apa yang disampaikannya itu betul-betul dapat dimiliki oleh peserta didik, sehingga mereka (peserta didik) akan mampu mengembangkan dalam arti meningkatkan kemampuannya pada tingkat keberhasilan yang lebih optimal. Untuk sampai ke tujuan tersebut, maka di samping guru sebagai demonstrator, ia juga berperan sebagai motivator, yakni merangsang dan atau memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi peserta didik, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar. Dalam semboyan pendidikan di Taman Siswa sudah lama dikenal dengan istilah ing ngaso sun tulodo dan ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.  Dengan semboyang ini, maka sangat nampak bahwa peranan guru sebagai motivator sangat penting dalam interaksi belajar mengajar, karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran sosial, menyangakut performance dalam arti personalisasi dan sosialisasi diri.
2. Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator, maka guru berperan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Mediator menurut Sudirman AM, berarti guru sebagai penyedia media, yakni bagaimana upaya guru meyediakan dan mengorganisasikan penggunaan media pembelajaran. Karena guru sebagai mediator, praktis bahwa ia juga berperan sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar yang sedemikian rupa, dan serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar akan berlangsung secara efektif. Hal ini, sesuai dengan paradigma “Tut Wuri Handayani”.
3. Guru sebagai Evaluator dan Pengelola Kelas
Sebagai evaluator, maka guru berperan mengadakan evaluasi, yakni penilaian terhadap hasil yang telah dicapai oleh peserta didik. Dengan penilaian, guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian, penguasaan peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan. Sekiranya, peserta didik belum sampai pada tingkat keberhasilan, maka guru dituntut lagi untuk lebih berperan sebagai pengelola kelas, dalam arti bahwa ia berperan sebagai learning manager, yakni mengelola kelas dan mengarahkan lingkungan kelas agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan untuk keberhasilan siswa secara optimal.
Multiperan guru sebagaimana diuraikan di atas, sangat penting penjabaran-nya, dan akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan berfungsi dengan baik, karena berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran.
Masih terkait dengan multiperan guru, oleh Mohamad Surya menyatakan bahwa peran guru di sekolah adalah dalam keseluruhan kegiatan pendidikan di tingkat operasional, guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional, intsruksional, dan eksperiensal. Hal yang demikian ini mengandung makna bahwa peran harus dipertahankan, bahkan sebaiknya lebih ditingkatkan. Karena itu, maka guru juga dituntut untuk memiliki komitmen yang kuat dalam upaya menfungsikan multiperannya secara utuh dan menyeluruh.
C. Multiperan Guru di Luar Sekolah
Di luar sekolah, guru juga memiliki multiperan yang signifikan. Di lingkungan keluarga misalnya, guru merupakan unsur keluarga sebagai pengelola (suami atau isteri), sebagai anak, dan sebagai pendidik dalam keluarga. Hal ini mengandung makna bahwa guru sebagai unsur keluarga harus mampu mewujudkan keluarga yang kokoh, sehingga menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara keseluruhan.
Menurut Mohamad Surya, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, guru merupakan unsur strategis sebagai anggota, agen, dan pendidik masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, guru harus menunjukkan kepribadiannya secara efektif agar menjadi teladan bagi masyarakat di sekitarnya. Sebagai agen masyarakat, guru berperan sebagai mediator antara masyarakat dan dunia pendidikan. Dalam hal ini, Moh. Uzer Usman menyatakan bahwa guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah-masalah pendidikan. Guru juga sebagai pemimpin  generasi muda, maka masa depan generasi muda terletak di tangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin mereka dalam mempersiapkan diri untuk anggota masyarakat yang dewasa.
Ringkasnya, multiperan guru yang disebutkan di atas, jika berfungsi sebagaimana mestinya, maka akan membawa lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat pada suasana edukatif, sehingga akan tercipta lingkungan yang berpendidikan, terarah dan menyeluruh, baik di sekolah maupun di luar sekolah, misalnya dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam pandangan penulis bahwa multiperan guru di luar sekolah, perlu diwujudkan secara nyata melalui satu pendekatan dan program yang dilaksanakan secara profesional, sistemik, sinergik, dan simbiotik dari semua pihak terkait.
D. Penutup
Multiperan guru sangat kompleks dan tidak hanya dimainkan di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Di sekolah, guru selain berperan sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih peserta didik, ia juga berperan sebagai demonstrator, motivator, mediator, fasilitator, evaluator, dan pengelola kelas. Sementara itu, di luar sekolah, guru berperan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sumber:
Sudirman AM. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000.
Surya, H. Mohamad. Percikan Perjuangan Guru. Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2003.
Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004
tuanguru.net